Rabu, 18 Desember 2019

HARI KEDUA DI PREY VENG (3): Slametan, Toleransi, dan Malam Terakhir




RemoKamboja



Slametan Ulang Tahun
Saya sempat bertanya. Pertanyaan yang tanpa ada yang menjawab. Karena memang tidak terungkapkan. Hanya dalam hati.
“Mereka juga diundang Pak Guru po?” tanyaku.
Memang. Tadi siang Pak Guru mengundang kami. Tasyakuran ulang tahun anaknya. Yang juga ‘murid’ kami.
Anaknya cantik. Kulitnya putih. Dengan lesung pipi yang memesona. Sayangnya masih anak-anak. Kelas 4 SD.
Anak itu juga pintar. Selalu mengacungkan jari. Menjawab tantangan ‘guru’ KKN ini. Sampai-sampai panen hadiah. Total tiga hadiah yang didapatnya. 2 gantungan kunci dan 1 stiker.
Ternyata tidak. Kedatangan Bu Bos dkk bukan karena undangan Slametan. Tetapi murni ingin menjenguk. Memonitor kondisi kami.

Naik Remox
Kami menuju rumah Pak Guru. Naik Remox. Ada dua jenis kendaraan yang dinamai Remox. Yang pertama mirip Bemo. Yang kedua mirip cikar/gerobak sapi. Yang ditarik menggunakan motor. Kami naik yang jenis kedua.
Yang nyopir adalah Pak Roland. Yang sudah khatam jalanan kanan Prey Veng.
Yang numpang adalah kami bertujuh. Plus satu pemilik Remox: Pak Guru.
Rumah Pak Guru berada di utaranya sekolahan. Kurang lebih cuma 1 km. Atau 2 kilo. Yang jelas saya nggak ngitung.
Jalannya terbuat dari tanah liat yang dicampur. Saya kurang tahu campurannya. Mirip batu bata yang dipasirkan. Anda tahu sendiri lah. Yang jelas bukan aspal atau semen.
Di sepanjang pinggir jalan ada sawah-sawah. Tanamannya padi. Hijau-hijau. Dengan angin yang  bertiup mesra semilir.
Anda bisa membayangkan sendiri. Bagaimana rasanya tiupan angin setelah hujan (badai) di persawahan. Syahdu banget! Mengalahkan adegan film India. Tebekatoye jana sanemmmmmm

Disambut “Senam Pinguin”
Sekitar 5 menit kemudian kami sampai. Beberapa guru dan muridnya guru sudah menunggu.
Di rumahnya Pak Guru sudah diputar lagu-lagu. Dengan spiker besarnya. Mirip pesta kondangan di Indonesia. Dalam versi mini.
Lagu yang diputar bermacam-macam. Yang jelas kami tak paham. Karena menggunakan bahasa khmer. Lagunya asyik. Tapi tak seasyik ‘Meraih Bintang’-nya Via Valen. Lagu official Asian Games itu.
Kami duduk kursi. Setelah berputar menengok lingkungan sekitar. Yang ternyata ada kelas ‘darurat’nya. Tiba-tiba spikernya mengeluarkan lagu lain. Yang tak asing di telinga: Senam Penguin. Lagu/musik yang kami gunakan untuk senam padi tadi. Bareng anak-anak.

Pak Guru, anak-anak, dan mata kepalanya Wenny



Ulang Tahun
Acara dimulai. Semua berkumpul. Mengitari yang sedang tambah umur. Mereka bernyanyi “Selamat Ulang Tahun”. Dalam 2 bahasa: Inggris dan Khmer. –kami hanya ikut pas yang inggris, giliran menggunakan bahasa Khmer. Cuma mangap-mangap saja. Haha-
Setelah itu, sang Ibu memotong kue ulang tahun. Semua hadirin mendapat bagian. Termasuk kami. Yang membagikan kue si anak yang ulang tahun. Yang cantik itu. Yang ‘murid’ pinter itu.
Setelah itu, semua pulang. Hanya tersisa Pak Kepala sekolah, beberapa tetangga, dan kami –juga Anjing yang berkeliaran-.

Mutilasi Kue


Toleransi
Ternyata, kami disuruh makan. “Sudah dimasakkan sop”, kata Pak Roland.
“Waduh mati aku”, gumamku. Kaget. Why?
Kita muslim, sedangkan yang masak adalah Buddhis. Yang namanya sop, pasti ada dagingnya. Minimal daging ayam.
Kami berbisik-bisik. Termasuk Pak Roland tanya,”Gimana?”
Saya berkata waktu itu, “Kalau daging, jangan makan saja, karena nggak halal kan. Tapi kalau ada lauk lain non-sembelihan, kita baru makan. Atau kita makan sopnya saja –yang non daging-.
Sebentar kemudian, sop keluar. Tapi............... sopnya sudah dicampur daging. Atau dagingnya yang dicampur sop. Sama saja tong! Dan tidak ada lauk lain.
“Bagaimana, nggak ada lauk lain e.... kalau mau makan ya monggo, terserah kalian”, kata Pak Roland.
Terpaksa kami tidak makan. Hanya Pak Roland dan Mas Bangkit yang ikut makan. Kami semua, hanya minum air botolan 500-an ml. Yang mereknya andalan: COOL SIP. Sudah cool, sip pula.

Udah Cool, Sip lagi.

Menjelang maghrib (atau sudah lewat maghrib –karena tak ada adzan-), listriknya mati. Gelap. Sebelum kami balik ke sekolah, Istrinya Pak Guru menawari beras, yang kemudian diterjemahkan pak Roland, “Itu ditawari beras. Kalau mau bawa, buat dimasak nanti malem”. –sepertinya itu bentuk permintaan maaf mereka, karena mereka tidak paham fikih bab memakan sembelihan agama lain. Iya kali. haha-
“Wah, beras kita masih banyak Pak”, Jawab Eri.
“Iya, lagian listriknya mati juga Pak”, Timpal Eza.
“Waduh maaaak, ditompo ae, ngge enak-enak ati”, gumamku.
Akhirnya kami pulang. Balik ke sekolahan. Mengendarai Remox. Tanpa pemiliknya yang ikut.

Toleransi lanjutannya terjadi di malam hari. Saat Kepala sekolah, Pak Guru, warga, dan pak polisi datang. Mereka menawari kami –yang diterjemahkan oleh Pak Roland: “Mereka tanya, besok mau makan apa? Supaya nggak kayak tadi sore –nggak mau makan-. Mereka yang mau masak nantinya”.
Kami semua berembuk. Teman-teman mengusulkan untuk masak sayur. “Cuma sayur saja?” Tanya Pak Roland. Lalu spontan saya usul “Ikan saja Pak” –karena ikan tidak harus ‘beragama’. Tidak harus dengan basmalah. Bahkan tidak perlu disembelih lehernya. Bahkan lagi, ‘bangkainya’ saja halal dimakan.

Last Dinner
Setelah sampai. Semua leyeh-leyeh. Sembari menunggu listrik nyala. Saya, maghrib ‘duluan’, kebetulan belum masuk waktu Isyak. 
Tak berapa lama, listrik nyala. Pertanda ‘nyawa’ kami bisa tersambung. Maksudnya, bisa masak. Lalu makan.
Itu adalah makan malam terakhir kami. Di Prey Veng. Di Sekolah Persahabatan Indonesia-Kamboja itu.
Lauknya, saya lupa. Tetapi agaknya ayam hasil mutilasi tadi malam sudah habis. Atau tinggal sisa-sisa. Atau malah kami masak tempe. Tempenya Pak Roland. Atau juga ‘ndadar endog’. Yang kami beli di pasar kemarin siang. Yang belum sempat didadar.

Pak Polisi lagi Pidato (biru)


Pamit
Tak beberapa lama kepala sekolah SMP datang. Lengkap dengan kepala sekolah SD, Pak Guru, dan Pak Polisi.
Pak Polisi datang tak seperti biasanya. Kali ini lebih nyantai. Tidak mengenakan pakaian kebesarannya: Pakaian Polisi. Topinya juga ditinggal. Padahal sejak kemarin menempel terus di kepala. Dan satu lagi....... lebih ganteng dari kemarin-kemarin. (Sorry Pak)
Malam itu lebih banyak ngobrol. Seperti biasa layaknya perpisahan: permintaan maaf dan kesan-pesan.
“Terima kasih atas sambutannya selama dua hari ini”, Kata Mas Bangkit.
“Mohon maaf bila kami di sini banyak kesalahan”, Lanjutnya lagi.
Lalu Pak Kepala sekolah menimpali. Bergantian dengan Pak Polisi. Yang paling banyak bicara. Tidak seperti biasa. Tetapi yang jelas hanya satu: Pak Roland. Karena beliaulah yang menerjemahkan. Jadi jembatan darurat kami dan mereka.
Obrolan lain adalah yang di atas. Tentang makan-makan besok pagi.

Malam sudah larut. Jam di handphone menunjukkan pukul 22.30. Saya lihat mata teman-teman tinggal 5 watt. Kedip-kedip tak ada daya. Sementara Pak Polisi masih terus berbicara. Seperti pidatonya calon presiden pas kampanye: panjang labar.
“Gimana sudah ngantuk atau belum?”, Tanya Pak Roland.
“Hehe, belum Pak”, Jawab Lutfi. Dengan kondisi mata yang sudah mau tumbang.
“Kalau ngantuk nggak papa kita istirahat saja. Biar saya bilang ke mereka –supaya berhenti ngajak ngobrol-“, lanjut Pak Roland
“Hehe, iya Pak”, Jawab temennya Lutfi

Akhirnya, kami tidur. Seperti malam kemarin: yang perempuan di bagian selatan. Di dalam jaring-jaring. Yang laki-laki di bagian utara. Tetapi, saya dan bangkit berbeda. Kami berdua tidur di dalam tenda. Tenda dome 3 orang miliknya Pak Roland. Yang warnanya loreng tentara. Maklum, Pak Roland adalah ‘pelatihnya tentara’.

Selamat Malam. Sampai besok pagi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar