| RemoKamboja |
Lanjutan dari TPA, Badai, dan Dijenguk Bos
Slametan
Ulang Tahun
Saya sempat bertanya. Pertanyaan yang tanpa ada yang
menjawab. Karena memang tidak terungkapkan. Hanya dalam hati.
“Mereka juga diundang Pak Guru po?” tanyaku.
Memang. Tadi siang Pak Guru mengundang kami. Tasyakuran
ulang tahun anaknya. Yang juga ‘murid’ kami.
Anaknya cantik. Kulitnya putih. Dengan lesung pipi yang memesona.
Sayangnya masih anak-anak. Kelas 4 SD.
Anak itu juga pintar. Selalu mengacungkan jari. Menjawab
tantangan ‘guru’ KKN ini. Sampai-sampai panen hadiah. Total tiga hadiah yang
didapatnya. 2 gantungan kunci dan 1 stiker.
Ternyata tidak. Kedatangan Bu Bos dkk bukan karena
undangan Slametan. Tetapi murni ingin menjenguk. Memonitor kondisi kami.
Naik
Remox
Kami menuju rumah Pak Guru. Naik Remox. Ada dua jenis
kendaraan yang dinamai Remox. Yang pertama mirip Bemo. Yang kedua mirip
cikar/gerobak sapi. Yang ditarik menggunakan motor. Kami naik yang jenis kedua.
Yang nyopir adalah
Pak Roland. Yang sudah khatam jalanan kanan Prey Veng.
Yang numpang
adalah kami bertujuh. Plus satu pemilik Remox: Pak Guru.
Rumah Pak Guru berada di utaranya sekolahan. Kurang lebih
cuma 1 km. Atau 2 kilo. Yang jelas saya nggak ngitung.
Jalannya terbuat dari tanah liat yang dicampur. Saya
kurang tahu campurannya. Mirip batu bata yang dipasirkan. Anda tahu sendiri
lah. Yang jelas bukan aspal atau semen.
Di sepanjang pinggir jalan ada sawah-sawah. Tanamannya
padi. Hijau-hijau. Dengan angin yang
bertiup mesra semilir.
Anda bisa membayangkan sendiri. Bagaimana rasanya tiupan
angin setelah hujan (badai) di persawahan. Syahdu banget! Mengalahkan adegan
film India. Tebekatoye jana sanemmmmmm
Disambut
“Senam Pinguin”
Sekitar 5 menit kemudian kami
sampai. Beberapa guru dan muridnya guru sudah menunggu.
Di rumahnya Pak Guru sudah
diputar lagu-lagu. Dengan spiker besarnya. Mirip pesta kondangan di Indonesia.
Dalam versi mini.
Lagu yang diputar
bermacam-macam. Yang jelas kami tak paham. Karena menggunakan bahasa khmer.
Lagunya asyik. Tapi tak seasyik ‘Meraih Bintang’-nya Via Valen. Lagu official
Asian Games itu.
Kami duduk kursi. Setelah
berputar menengok lingkungan sekitar. Yang ternyata ada kelas ‘darurat’nya.
Tiba-tiba spikernya mengeluarkan lagu lain. Yang tak asing di telinga: Senam
Penguin. Lagu/musik yang kami gunakan untuk senam padi tadi. Bareng anak-anak.
| Pak Guru, anak-anak, dan mata kepalanya Wenny |
Ulang
Tahun
Acara dimulai. Semua berkumpul.
Mengitari yang sedang tambah umur. Mereka bernyanyi “Selamat Ulang Tahun”.
Dalam 2 bahasa: Inggris dan Khmer. –kami hanya ikut pas yang inggris, giliran
menggunakan bahasa Khmer. Cuma mangap-mangap saja. Haha-
Setelah itu, sang Ibu memotong
kue ulang tahun. Semua hadirin mendapat bagian. Termasuk kami. Yang membagikan
kue si anak yang ulang tahun. Yang cantik itu. Yang ‘murid’ pinter itu.
Setelah itu, semua pulang.
Hanya tersisa Pak Kepala sekolah, beberapa tetangga, dan kami –juga Anjing yang
berkeliaran-.
| Mutilasi Kue |
Toleransi
Ternyata, kami disuruh makan.
“Sudah dimasakkan sop”, kata Pak Roland.
“Waduh mati aku”, gumamku.
Kaget. Why?
Kita muslim, sedangkan yang
masak adalah Buddhis. Yang namanya sop, pasti ada dagingnya. Minimal daging
ayam.
Kami berbisik-bisik. Termasuk
Pak Roland tanya,”Gimana?”
Saya berkata waktu itu, “Kalau
daging, jangan makan saja, karena nggak halal kan. Tapi kalau ada lauk lain
non-sembelihan, kita baru makan. Atau kita makan sopnya saja –yang non daging-.
Sebentar kemudian, sop keluar.
Tapi............... sopnya sudah dicampur daging. Atau dagingnya yang dicampur
sop. Sama saja tong! Dan tidak ada lauk lain.
“Bagaimana, nggak ada lauk lain
e.... kalau mau makan ya monggo, terserah kalian”, kata Pak Roland.
Terpaksa kami tidak makan.
Hanya Pak Roland dan Mas Bangkit yang ikut makan. Kami semua, hanya minum air
botolan 500-an ml. Yang mereknya andalan: COOL SIP. Sudah cool, sip pula.
| Udah Cool, Sip lagi. |
Menjelang maghrib (atau sudah
lewat maghrib –karena tak ada adzan-), listriknya mati. Gelap. Sebelum kami
balik ke sekolah, Istrinya Pak Guru menawari beras, yang kemudian diterjemahkan
pak Roland, “Itu ditawari beras. Kalau mau bawa, buat dimasak nanti malem”.
–sepertinya itu bentuk permintaan maaf mereka, karena mereka tidak paham fikih
bab memakan sembelihan agama lain. Iya kali. haha-
“Wah, beras kita masih banyak
Pak”, Jawab Eri.
“Iya, lagian listriknya mati
juga Pak”, Timpal Eza.
“Waduh maaaak, ditompo ae, ngge
enak-enak ati”, gumamku.
Akhirnya kami pulang. Balik ke
sekolahan. Mengendarai Remox. Tanpa pemiliknya yang ikut.
Toleransi lanjutannya terjadi
di malam hari. Saat Kepala sekolah, Pak Guru, warga, dan pak polisi datang.
Mereka menawari kami –yang diterjemahkan oleh Pak Roland: “Mereka tanya, besok
mau makan apa? Supaya nggak kayak tadi sore –nggak mau makan-. Mereka yang mau
masak nantinya”.
Kami semua berembuk.
Teman-teman mengusulkan untuk masak sayur. “Cuma sayur saja?” Tanya Pak Roland.
Lalu spontan saya usul “Ikan saja Pak” –karena ikan tidak harus ‘beragama’. Tidak
harus dengan basmalah. Bahkan tidak perlu disembelih lehernya. Bahkan lagi,
‘bangkainya’ saja halal dimakan.
Last Dinner
Setelah sampai. Semua
leyeh-leyeh. Sembari menunggu listrik nyala. Saya, maghrib ‘duluan’, kebetulan
belum masuk waktu Isyak.
Tak berapa lama, listrik nyala.
Pertanda ‘nyawa’ kami bisa tersambung. Maksudnya, bisa masak. Lalu makan.
Itu adalah makan malam terakhir
kami. Di Prey Veng. Di Sekolah Persahabatan Indonesia-Kamboja itu.
Lauknya, saya lupa. Tetapi
agaknya ayam hasil mutilasi tadi malam sudah habis. Atau tinggal sisa-sisa.
Atau malah kami masak tempe. Tempenya Pak Roland. Atau juga ‘ndadar endog’. Yang
kami beli di pasar kemarin siang. Yang belum sempat didadar.
| Pak Polisi lagi Pidato (biru) |
Pamit
Tak beberapa lama kepala
sekolah SMP datang. Lengkap dengan kepala sekolah SD, Pak Guru, dan Pak Polisi.
Pak Polisi datang tak seperti
biasanya. Kali ini lebih nyantai. Tidak mengenakan pakaian kebesarannya:
Pakaian Polisi. Topinya juga ditinggal. Padahal sejak kemarin menempel terus di
kepala. Dan satu lagi....... lebih ganteng dari kemarin-kemarin. (Sorry Pak)
Malam itu lebih banyak ngobrol.
Seperti biasa layaknya perpisahan: permintaan maaf dan kesan-pesan.
“Terima kasih atas sambutannya
selama dua hari ini”, Kata Mas Bangkit.
“Mohon maaf bila kami di sini
banyak kesalahan”, Lanjutnya lagi.
Lalu Pak Kepala sekolah
menimpali. Bergantian dengan Pak Polisi. Yang paling banyak bicara. Tidak seperti
biasa. Tetapi yang jelas hanya satu: Pak Roland. Karena beliaulah yang
menerjemahkan. Jadi jembatan darurat kami dan mereka.
Obrolan lain adalah yang di
atas. Tentang makan-makan besok pagi.
Malam sudah larut. Jam di handphone
menunjukkan pukul 22.30. Saya lihat mata teman-teman tinggal 5 watt. Kedip-kedip
tak ada daya. Sementara Pak Polisi masih terus berbicara. Seperti pidatonya
calon presiden pas kampanye: panjang labar.
“Gimana sudah ngantuk atau
belum?”, Tanya Pak Roland.
“Hehe, belum Pak”, Jawab Lutfi.
Dengan kondisi mata yang sudah mau tumbang.
“Kalau ngantuk nggak papa kita
istirahat saja. Biar saya bilang ke mereka –supaya berhenti ngajak ngobrol-“,
lanjut Pak Roland
“Hehe, iya Pak”, Jawab temennya
Lutfi
Akhirnya, kami tidur. Seperti
malam kemarin: yang perempuan di bagian selatan. Di dalam jaring-jaring. Yang laki-laki
di bagian utara. Tetapi, saya dan bangkit berbeda. Kami berdua tidur di dalam
tenda. Tenda dome 3 orang miliknya Pak Roland. Yang warnanya loreng tentara.
Maklum, Pak Roland adalah ‘pelatihnya tentara’.
Selamat Malam. Sampai besok
pagi!