Terusan dari Ngajar di Pagoda
Pindah Sekolah
Sesi pertama telah selesai. Saatnya kami kembali ke basecamp. Di Sekolah Persahabatan
Indonesia-Kamboja. Untuk sekadar istirahat dan makan siang. Juga untuk
menghabiskan sisa hari.
Saat itu pukul 13.00 WK. Kami masuk ruang kelas.
Jumlahnya ada lima ruangan. Tetapi masih dalam satu bangunan yang menyatu.
Hanya tiga ruangan yang digunakan sebagai kelas. Satunya untuk kantor guru.
Satunya lagi untuk gudang.
Tim dibagi menjadi 3. Menyesuaikan jumlah kami yang 7
orang. Luthfi dengan Reza di kelas 3. Bangkit dan Wenny di kelas 4. Saya, Eri,
dan Dliya’ul di kelas 6. Sebenarnya saya tidak begitu tahu tingkatan kelas
mereka. Semoga teman-teman saya tahu.
Saat itu, di kelasnya Luhfi-Reza yang sedang mengajar Bu
Guru. Masih muda, tinggi, langsing, dan cantik. Meskipun tatapannya tajam.
Di kelasnya Bangkit-Wenny, yang mengajar juga Bu Guru.
Juga masih muda dan cantik. Tetapi tidak tinggi. Juga tatapannya kalem.
Sementara Saya-Eri-Uul kebagian Pak Guru. Meskipun tidak
cantik. Tetapi ‘laki banget’. Njelalahnya
Pak Guru itu mengajar Matematika. Sangat cocok dengan kami. Eri yang
jurusan Pendidikan Fisika. Dan saya yang (mantan) Matematikawan.
“Wah matematika. Pas sekali” Ucap saya. Sambil
membolak-balik halaman dan mencermatinya. Barangkali akan paham teorinya.
Teorinya ditulis menggunakan aksara Khmer Alhamdulillahnya saya paham maksudnya. Tetapi
tidak paham cara menjelaskannya. Saat itu kami sempat mencoba menjelaskan.
Tetapi tetap saja tidak bisa. Bak orang Inggris yang mau menjelaskan sesuatu
dalam bahasa Jawa. Yang tulisannya menggunakan aksara Jawa. Mustahil!
Saya tidak tahu bagaimana nasib empat teman di samping.
Yang pasti, mereka mendapat giliran awal. Untuk dipandu Pak Roland memulai
kelas. Sementara kami bertiga bagian paling buncit. Tetapi itu bukan masalah.
Untungnya Pak Guru matematika bisa
bahasa Inggris. Meskipun sedikit. Atau juga banyak. Saya tak begitu paham.
Karena yang berbicara si Eri.
Kami bertiga memulai kelas. Membuka pembicaraan. Eri
berkolaborasi dengan Pak Guru. Sementara saya memvideo. Sementara lagi, si Uul
berdiri di dekat pintu. Sambil mesam-mesem tidak jelas.
Bangkit dan Wenny tiba-tiba masuk kelas. Padahal kelas
kami baru saja mulai. Mungkin mereka sudah selesai. Atau karena gabut kehabisan materi. Bisa jadi.
Ketambahan dua personel tak membuat kelas autorame. Masih sama. Interaksi masih
kaku dan wagu. Bahkan sesekali saling
lempar tanya. “Gimana, apalagi?”.
Tentu saya tidak bisa tinggal diam. Sebagai guru TPA,
harus bertindak. Tidak boleh hanya merekam saja.
Saya maju ke depan. Mengajak siswa-siswi berhitung. Saya
teriak-teriak bersemangat. Tetapi tidak menggunakan bahasa Inggris –sebagaimana
teman yang lain-. Melainkan bahasa Indonesia murni. Toh mereka sama-sama tidak
tahu Inggris/Indonesia. Untungnya saya anak Komunikasi. Jadi paham!
| Dari kanan: calon dokter, calon polisi, 2 calon penyanyi, dan nenek gayung |
Belajar Ala TPA
Dengan semangat ’97, saya memulai. Berhitung ala santri
belajar Iqro’. Belajar ala menghafal. Belajar dengan diulang sekian kali.
“Ayo semuanya diikuti”, teriak saya sembari menunjuk
papan tulis.
“Satu (satu)... Satu (satu)... Satu (satu)... Satu
(satu)... Satu (satu)...”
..........................................................................................................
“Sepuluh (sepuluh)... Sepuluh (sepuluh)... Sepuluh
(sepuluh)... Sepuluh (sepuluh)... Sepuluh (sepuluh)...”.
Caranya: Seperti itu. Setiap satu angka diulang sampai 5
kali. Sampai angka 10. Lalu diulang lagi sampai beberapa kali. Kemudian
hitungan dibalik. Dari belakang. mulai 10 sampai 1. Juga diulang-ulang beberapa
kali.
Tujuannya: Supaya mereka hafal. Juga paham. Bisa
menyinkronkan angka dan bacanya.
Hasilnya: Mereka bisa. Yang awalnya sulit. Berkat metode
Iqro’ itu tadi. Bisa hafal satu sampai sepuluh.
Alhamdulillah. Pahala Jariyah!
Sholat Pas Badai!
Kelas selesai pukul 14.35. Kami keluar kelas. Langit
mulai sedikit gelap. Meskipun cahaya matahari masih terang.
Saat itu saya baru mau sholat dzuhur. Yang tertunda
karena air mati. Saya di dalam ‘kamar’. Sementara teman-teman yang lain di
luar. Sedang main dengan siswa. Mungkin.
Kira-kira pukul 14.50, tiba-tiba angin besar datang.
Sambil membawa air (hujan). Mirip badai. Atau memang badai.
Badai itu datang ketika saya sholat. Sekian detik setelah
takbiraul ikram. Terjangannya cukup
kuat. Sampai membuat oleng tubuh kurus saya.
Awalnya saya was-was. Mata agak melirik ke sekitar.
Berjaga-jaga. Kalau-kalau ada genteng terbang. Lalu menyapa muka saya. Kan
repot.
Saya tetap mencoba khusyuk. Dengan mengeraskan bacaan.
Berharap dapat mukjizat (atau ma’unah). Agar badai langsung pergi. Tanpa
meninggalkan bekas.
Tetapi tampaknya itu gagal. Badai terus menerjang. Dengan
kencangnya. Badai itu berhenti (atau lewat) ketika sholat selesai.
“Masak gara-gara sholat badai datang?”. pikirku saat itu.
Tidak! Rupanya di sini badai menjadi hal yang biasa.
Penyebabnya: tanah lapang yang luas. Ditambah pepohonan yang tak selebat pulau
Kalimantan.
Agaknya saya cukup menyesal. Untuk kedua kalinya gagal
melihat badai secara langsung. Setelah terlelap di malam kemarin. Tetapi,
untungnya masih ada Mas Bangkit. Juga teman lain. Yang sempat mengabadikan
amukan angin itu.
Dijenguk Bos
Ternyata badai yang barusan membawa pesan lain: Bu Bos
datang. Menjenguk kami yang genap sehari ‘kemah’ itu.
Kira-kira pukul 4 sore. Atau kurang dari itu. Ada mobil
besar datang. Ternyata itu adalah Bu Eka. Lengkap dengan Syekh Asy’ari dan
Ustadz Ardi. Ditambah 3 orang anonymous:
Afit, Rofinah, dan Hiday.
Tentu. Kami senang bukan kepalang. Cuma satu yang agak
disesalkan: mereka tidak membawa jajan. Anonymous
pelit!
Mungkin dikiranya kami dekat dengan Circle-K. Atau
mungkin mereka tidak punya uang. Pastinya!
Lalu kami foto-foto sebentar. Lalu mereka pulang. Lalu
kami slametan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar