Jumat, 06 Desember 2019

HARI KEDUA DI PREY VENG (2) : 'TPA', Badai, dan Dijenguk Bos


 
Setelah Ngajar TPA


Terusan dari Ngajar di Pagoda

Pindah Sekolah

Sesi pertama telah selesai. Saatnya kami kembali ke basecamp. Di Sekolah Persahabatan Indonesia-Kamboja. Untuk sekadar istirahat dan makan siang. Juga untuk menghabiskan sisa hari.
Saat itu pukul 13.00 WK. Kami masuk ruang kelas. Jumlahnya ada lima ruangan. Tetapi masih dalam satu bangunan yang menyatu. Hanya tiga ruangan yang digunakan sebagai kelas. Satunya untuk kantor guru. Satunya lagi untuk gudang.
Tim dibagi menjadi 3. Menyesuaikan jumlah kami yang 7 orang. Luthfi dengan Reza di kelas 3. Bangkit dan Wenny di kelas 4. Saya, Eri, dan Dliya’ul di kelas 6. Sebenarnya saya tidak begitu tahu tingkatan kelas mereka. Semoga teman-teman saya tahu.
Saat itu, di kelasnya Luhfi-Reza yang sedang mengajar Bu Guru. Masih muda, tinggi, langsing, dan cantik. Meskipun tatapannya tajam.
Di kelasnya Bangkit-Wenny, yang mengajar juga Bu Guru. Juga masih muda dan cantik. Tetapi tidak tinggi. Juga tatapannya kalem.
Sementara Saya-Eri-Uul kebagian Pak Guru. Meskipun tidak cantik. Tetapi ‘laki banget’. Njelalahnya Pak Guru itu mengajar Matematika. Sangat cocok dengan kami. Eri yang jurusan Pendidikan Fisika. Dan saya yang (mantan) Matematikawan.
“Wah matematika. Pas sekali” Ucap saya. Sambil membolak-balik halaman dan mencermatinya. Barangkali akan paham teorinya.
Teorinya ditulis menggunakan aksara Khmer  Alhamdulillahnya saya paham maksudnya. Tetapi tidak paham cara menjelaskannya. Saat itu kami sempat mencoba menjelaskan. Tetapi tetap saja tidak bisa. Bak orang Inggris yang mau menjelaskan sesuatu dalam bahasa Jawa. Yang tulisannya menggunakan aksara Jawa. Mustahil!

Saya tidak tahu bagaimana nasib empat teman di samping. Yang pasti, mereka mendapat giliran awal. Untuk dipandu Pak Roland memulai kelas. Sementara kami bertiga bagian paling buncit. Tetapi itu bukan masalah. Untungnya  Pak Guru matematika bisa bahasa Inggris. Meskipun sedikit. Atau juga banyak. Saya tak begitu paham. Karena yang berbicara si Eri.

Kami bertiga memulai kelas. Membuka pembicaraan. Eri berkolaborasi dengan Pak Guru. Sementara saya memvideo. Sementara lagi, si Uul berdiri di dekat pintu. Sambil mesam-mesem tidak jelas.

Bangkit dan Wenny tiba-tiba masuk kelas. Padahal kelas kami baru saja mulai. Mungkin mereka sudah selesai. Atau karena gabut kehabisan materi. Bisa jadi.
Ketambahan dua personel tak membuat kelas autorame. Masih sama. Interaksi masih kaku dan wagu. Bahkan sesekali saling lempar tanya. “Gimana, apalagi?”.
Tentu saya tidak bisa tinggal diam. Sebagai guru TPA, harus bertindak. Tidak boleh hanya merekam saja.
Saya maju ke depan. Mengajak siswa-siswi berhitung. Saya teriak-teriak bersemangat. Tetapi tidak menggunakan bahasa Inggris –sebagaimana teman yang lain-. Melainkan bahasa Indonesia murni. Toh mereka sama-sama tidak tahu Inggris/Indonesia. Untungnya saya anak Komunikasi. Jadi paham!


Dari kanan: calon dokter, calon polisi, 2 calon penyanyi, dan nenek gayung

Belajar Ala TPA

Dengan semangat ’97, saya memulai. Berhitung ala santri belajar Iqro’. Belajar ala menghafal. Belajar dengan diulang sekian kali.
“Ayo semuanya diikuti”, teriak saya sembari menunjuk papan tulis.
“Satu (satu)... Satu (satu)... Satu (satu)... Satu (satu)... Satu (satu)...”
..........................................................................................................
“Sepuluh (sepuluh)... Sepuluh (sepuluh)... Sepuluh (sepuluh)... Sepuluh (sepuluh)... Sepuluh (sepuluh)...”.
Caranya: Seperti itu. Setiap satu angka diulang sampai 5 kali. Sampai angka 10. Lalu diulang lagi sampai beberapa kali. Kemudian hitungan dibalik. Dari belakang. mulai 10 sampai 1. Juga diulang-ulang beberapa kali.
Tujuannya: Supaya mereka hafal. Juga paham. Bisa menyinkronkan angka dan bacanya.
Hasilnya: Mereka bisa. Yang awalnya sulit. Berkat metode Iqro’ itu tadi. Bisa hafal satu sampai sepuluh.
Alhamdulillah. Pahala Jariyah!

Sholat Pas Badai!

Kelas selesai pukul 14.35. Kami keluar kelas. Langit mulai sedikit gelap. Meskipun cahaya matahari masih terang.
Saat itu saya baru mau sholat dzuhur. Yang tertunda karena air mati. Saya di dalam ‘kamar’. Sementara teman-teman yang lain di luar. Sedang main dengan siswa. Mungkin.
Kira-kira pukul 14.50, tiba-tiba angin besar datang. Sambil membawa air (hujan). Mirip badai. Atau memang badai.
Badai itu datang ketika saya sholat. Sekian detik setelah takbiraul ikram. Terjangannya cukup kuat. Sampai membuat oleng tubuh kurus saya.
Awalnya saya was-was. Mata agak melirik ke sekitar. Berjaga-jaga. Kalau-kalau ada genteng terbang. Lalu menyapa muka saya. Kan repot.
Saya tetap mencoba khusyuk. Dengan mengeraskan bacaan. Berharap dapat mukjizat (atau ma’unah). Agar badai langsung pergi. Tanpa meninggalkan bekas.
Tetapi tampaknya itu gagal. Badai terus menerjang. Dengan kencangnya. Badai itu berhenti (atau lewat) ketika sholat selesai.
“Masak gara-gara sholat badai datang?”. pikirku saat itu.
Tidak! Rupanya di sini badai menjadi hal yang biasa. Penyebabnya: tanah lapang yang luas. Ditambah pepohonan yang tak selebat pulau Kalimantan.

Agaknya saya cukup menyesal. Untuk kedua kalinya gagal melihat badai secara langsung. Setelah terlelap di malam kemarin. Tetapi, untungnya masih ada Mas Bangkit. Juga teman lain. Yang sempat mengabadikan amukan angin itu.

Dijenguk Bos

Ternyata badai yang barusan membawa pesan lain: Bu Bos datang. Menjenguk kami yang genap sehari ‘kemah’ itu.
Kira-kira pukul 4 sore. Atau kurang dari itu. Ada mobil besar datang. Ternyata itu adalah Bu Eka. Lengkap dengan Syekh Asy’ari dan Ustadz Ardi. Ditambah 3 orang anonymous: Afit, Rofinah, dan Hiday.
Tentu. Kami senang bukan kepalang. Cuma satu yang agak disesalkan: mereka tidak membawa jajan. Anonymous pelit!
Mungkin dikiranya kami dekat dengan Circle-K. Atau mungkin mereka tidak punya uang. Pastinya!
Lalu kami foto-foto sebentar. Lalu mereka pulang. Lalu kami slametan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar