| Mau Ngajar (Ibadah) Dulu |
Sekarang adalah Kamis. Hari siswa masuk sekolah. Sama
seperti di Indonesia. Liburnya cuma Minggu. Ditambah hari libur nasional. Yang
jumlahnya bukan main banyaknya. Mencapai 28 hari. Terbanyak di dunia!
Tapi
Seharusnya siswa libur. Karena ujian semester telah
selesai. Hanya siswa kelas 6 yang belum ujian. Ujian kelulusan. Atau ujian
kenaikan kelas. Atau ujian 'pindah kelas'. -- nanti akan saya jelaskan di
belakang. Kalau sempat.
Tapi.
Siswa diminta tetap masuk. Libur ditunda 3 hari.
Alasannya: orang Indonesia mau datang. Katanya.
"Ya yang mau masuk. Masuk saja", Kata Pak
Roland. Yang dari katanya Bu Santi dan Pak Dadang. Yang juga katanya Pak
EngBang.
Pak Roland adalah pendamping kami. Juga pengajar di
Pusbudi (Pusat Budaya Indonesia).
Pak Dadang adalah staf di Pensosbud. Informan sejak
sebelum berangkat ke Kamboja.
Pak EngBang adalah Kepala Sekolah SMP Sekolah
Persahabatan Indonesia-Kamboja.
**********
Sebenarnya, cerita hari kedua telah saya awali di 2
tulisan sebelumnya.
Yang Dendam Si Anjing
sebagai pembuka hari.
Juga Menengok SekolahPersahabatan Indonesia-Kamboja, Tempat Merajut Asa Anak-Anak Kamboja.
Rangkuman selama 3 hari 2 malam. Dengan gaya cerita yang berbeda. Features
News.
0 6
: 2 0. Empat angka
berderet. Dengan titik dua di tengah. Itu yang muncul di layar smartphone.
Pagi? Tidak juga. Meskipun di luar negeri.
Siang? Juga tidak. Karena subuh hanya telat 10 menit.
Dibanding subuhnya orang Gudeg. Jogja.
Jadi? Sebut saja pagi. Lebih sesuai dengan jamnya Masjid
Gede Kauman. Yang besar itu.
Sepagi itu siswa-siswi berdatangan. Seperti tak mau kalah
dengan kokokan Anjing. Yang berkokok di pagi hari. Memang. Karena tak ada ayam
berkeliaran.
Kakinya dialasi sendal jepit. Tetapi bukan Swallow.
Apalagi Mely.
Merekanya berjalan. Sekali-kali meloncat. Menghindari
genangan air. Yang membuat halaman becek. Bak kolam bebek.
Tangannya ditekuk ke atas. Memegangi makanan yang sedang
dimakan.
Matanya melirik. Bibirnya tersenyum. Sampai giginya
berbunyi “iiiii”. Dengan lima ‘i’.
Kami menyapa ‘Haiiii’. Karena itu kata universal yang
saling dimengerti.
Untung. Saat itu kami semua sudah mandi. Tidak pakewuh lagi.
Jadi. Kami tinggal makan pagi. Dengan lauk ayam tadi
malam.
SMP
= Sekolah Menyang Pagoda
Kira-kira pukul 07:25 . Semua sudah siap. Berseragam kaos
“KKN Internasional Kamboja”. Topi dan sepatu. Juga beberapa memakai sandal.
Termasuk saya.
Pagi itu jadwalnya mengajar di SMP. SMP-nya di Pagoda.
Masjidnya Umat Budha itu. Lokasinya di seberang sekolah. Terpisah dari kompleks
sekolah. Karena sekolah masih dibangun.
Kami masuk ke satu bangunan Pagoda. Yang letaknya paling
depan. Kami langsung disambut Dewi Kwan In. Juga Budha Julai dan lima biksu
lainnya. Mereka tersenyum. Tapi tidak bergerak. Karena memang patung. Juga
gambar di langit-langit bangunan.
Lalu kami keluar.
Lalu kami menemui Bu Guru. Tidak muda. Juga tidak begitu
tua. Meminta izin masuk kelas. Tentu yang minta izin adalah Pak Roland.
Pendamping yang merangkap Juru Bicara.
| Kelas Kecil itu |
Wagu Kenal
Kami masuk ruang kelas. Tak begitu besar. Tapi masih cukup untuk belajar.
Kami menyapa mereka. Lagi-lagi dengan ‘Haiii’. Sambil dada-dada dan senyum.
Supaya kelihatan akrab dan mengerti bahasanya. Padahal, Blasss.
Tetapi rona canggung terlihat jelas. Entah itu tim KKN. Terlebih
siswa-siswi. Tapi lagi-lagi untung. Untung ada Pak Roland. Yang njowo bahasa Khmer. Juga njowo bahasa Indonesia. Juga njowo bahasa Jawa. Karena memang asli
Jember.
Lalu kami memperkenalkan diri. Perkenalan yang Wagu sekali. Sangat wagu.
Bahkan over wagu. Perkenalan saja dipandu Pak Roland.
Kami memperkenalkan diri dengan 1 kata: Khnhom.
Dibacanya Khyom. Artinya ‘Saya’.
Jadi tidak perlu menggunakan kata ‘Nama’. Atau bahasa Khmernya Chhmoh. Yang dibaca Chmu.
Menyanyikan Hitungan
Sebenarnya
sub judul ini tidak tepat. Tapi biarlah. Terserah saya saja. Penulis mah bebas.
Setelah itu kami bernyanyi dan berhitung. Dengan bahasa
Indonesia. Caranya: Pertama dengan
metode talaqqi. Salah satu metode
baca Qur’an itu. Dengan di dikte melalui lisan.
Tetapi ternyata gagal. Lidah mereka gagal paham. Mungkin karena
terlalu lama bicara Khmer. Salah mereka sendiri. Atau salah kami?
Cara pertama gagal. Lalu cara Kedua dengan menuliskan di papan. Agar bisa dibaca. Walaupun
mustahil bisa baca. Bu Gurunya saja terbata-bata. Salah mereka sendiri. Kenapa
tidak menggunakan bahasa Indonesia? Atau salah kami yang mengajar Indonesia di
Kamboja? Ah Embuhlah.
Ternyata cara kedua berhasil. Ternyata mereka adalah
generasi tekstualis. Ternyata, bunyi.
Kami mengajari mereka lagu yang “la.... la.... la.... la”
itu. Liriknya:
Di sini
senang, di sana Senang
Di
mana-mana hatiku senang
La...
la... la... la... la... La-nya
diulang sekian kali. Sampai sesuai dengan not-nya.
Kemudian berhitung. Hitungan 1-10. Tulisannya angka. Tapi
membacanya dengan huruf. Gini lho “Satu
... dua ... tiga ... empat ... lima ... enam ... tujuh ... delapan ... sembilan
... sepuluh”.
Alhamdulillah mereka bisa. Meskipun huruf ‘U’-nya jadi
‘O’. Meskipun 7 dibaca tuyuh.
Senam Penguin
Kegiatan kelas sudah selesai. Kini beralih ke lapangan.
Untuk senam Penguin. Yang memutar-mutar itu. Juga bermain permainan
tradisional-modern: gobak sodor, ‘maju-mundur’-an, dan tebak gerakan.
Lucu sekaligus ngenes.
Mati gaya dan kehabisan akal. Karena wagu.
Karena tidak hafal gerakannya. Karena sound
systemnya tidak terdengar. Karena laptopnya error. Semua itu penyebabnya 1: Kurang persiapan. Juga terlalu
meremehkan, “Weslah neng kono wae. Wonge
yo gak eruh salah opo bener e”.
Tetapi akhirnya berjalan. Setelah melalui beragam ubet-an. Termasuk speakernya Pak Guru
Matematika. Yang harus diangkut ke sekolahan. “Hlah, katanya nggak ada speaker
di sini”, Celetukku dalam hati.
Senam selesai. Kami melanjutkan agenda. Bermain gobak
sodor, tebak gerakan, dan maju-mundur. Perintah ‘maju-mundur’nya dengan bahasa Indonesia.
Bukan inggris atau khmer.
Part 2
Dari Badai Dahsyat sampai Diundang Slametan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar