Senin, 11 November 2019

HARI KEDUA DI PREY VENG (1): NGAJAR DI PAGODA

Mau Ngajar (Ibadah) Dulu

Sekarang adalah Kamis. Hari siswa masuk sekolah. Sama seperti di Indonesia. Liburnya cuma Minggu. Ditambah hari libur nasional. Yang jumlahnya bukan main banyaknya. Mencapai 28 hari. Terbanyak di dunia!

Tapi
Seharusnya siswa libur. Karena ujian semester telah selesai. Hanya siswa kelas 6 yang belum ujian. Ujian kelulusan. Atau ujian kenaikan kelas. Atau ujian 'pindah kelas'. -- nanti akan saya jelaskan di belakang. Kalau sempat.

Tapi.
Siswa diminta tetap masuk. Libur ditunda 3 hari. Alasannya: orang Indonesia mau datang. Katanya.
"Ya yang mau masuk. Masuk saja", Kata Pak Roland. Yang dari katanya Bu Santi dan Pak Dadang. Yang juga katanya Pak EngBang.
Pak Roland adalah pendamping kami. Juga pengajar di Pusbudi (Pusat Budaya Indonesia).
Bu Santi adalah Sekretaris I bidang Fungsi Penerangan, Sosial dan Budaya (Pensosbud)
Pak Dadang adalah staf di Pensosbud. Informan sejak sebelum berangkat ke Kamboja.
Pak EngBang adalah Kepala Sekolah SMP Sekolah Persahabatan Indonesia-Kamboja.

**********
Sebenarnya, cerita hari kedua telah saya awali di 2 tulisan sebelumnya.
Yang Dendam Si Anjing sebagai pembuka hari.
Juga Menengok SekolahPersahabatan Indonesia-Kamboja, Tempat Merajut Asa Anak-Anak Kamboja. Rangkuman selama 3 hari 2 malam. Dengan gaya cerita yang berbeda. Features News.

0 6 : 2 0. Empat angka berderet. Dengan titik dua di tengah. Itu yang muncul di layar smartphone.
Pagi? Tidak juga. Meskipun di luar negeri.
Siang? Juga tidak. Karena subuh hanya telat 10 menit. Dibanding subuhnya orang Gudeg. Jogja.
Jadi? Sebut saja pagi. Lebih sesuai dengan jamnya Masjid Gede Kauman. Yang besar itu.

Sepagi itu siswa-siswi berdatangan. Seperti tak mau kalah dengan kokokan Anjing. Yang berkokok di pagi hari. Memang. Karena tak ada ayam berkeliaran.
Kakinya dialasi sendal jepit. Tetapi bukan Swallow. Apalagi Mely.
Merekanya berjalan. Sekali-kali meloncat. Menghindari genangan air. Yang membuat halaman becek. Bak kolam bebek.
Tangannya ditekuk ke atas. Memegangi makanan yang sedang dimakan.
Matanya melirik. Bibirnya tersenyum. Sampai giginya berbunyi “iiiii”. Dengan lima ‘i’.
Kami menyapa ‘Haiiii’. Karena itu kata universal yang saling dimengerti.
Untung. Saat itu kami semua sudah mandi. Tidak pakewuh lagi.
Jadi. Kami tinggal makan pagi. Dengan lauk ayam tadi malam.

SMP = Sekolah Menyang Pagoda
Kira-kira pukul 07:25 . Semua sudah siap. Berseragam kaos “KKN Internasional Kamboja”. Topi dan sepatu. Juga beberapa memakai sandal. Termasuk saya.
Pagi itu jadwalnya mengajar di SMP. SMP-nya di Pagoda. Masjidnya Umat Budha itu. Lokasinya di seberang sekolah. Terpisah dari kompleks sekolah. Karena sekolah masih dibangun.

Kami masuk ke satu bangunan Pagoda. Yang letaknya paling depan. Kami langsung disambut Dewi Kwan In. Juga Budha Julai dan lima biksu lainnya. Mereka tersenyum. Tapi tidak bergerak. Karena memang patung. Juga gambar di langit-langit bangunan.
Lalu kami keluar.

Lalu kami menemui Bu Guru. Tidak muda. Juga tidak begitu tua. Meminta izin masuk kelas. Tentu yang minta izin adalah Pak Roland. Pendamping yang merangkap Juru Bicara.


Kelas Kecil itu
Wagu Kenal
Kami masuk ruang kelas. Tak begitu besar. Tapi masih cukup untuk belajar.
Kami menyapa mereka. Lagi-lagi dengan ‘Haiii’. Sambil dada-dada dan senyum. Supaya kelihatan akrab dan mengerti bahasanya. Padahal, Blasss.

Tetapi rona canggung terlihat jelas. Entah itu tim KKN. Terlebih siswa-siswi. Tapi lagi-lagi untung. Untung ada Pak Roland. Yang njowo bahasa Khmer. Juga njowo bahasa Indonesia. Juga njowo bahasa Jawa. Karena memang asli Jember.

Lalu kami memperkenalkan diri. Perkenalan yang Wagu sekali. Sangat wagu. Bahkan over wagu. Perkenalan saja dipandu Pak Roland.
Kami memperkenalkan diri dengan 1 kata: Khnhom. Dibacanya Khyom. Artinya ‘Saya’. Jadi tidak perlu menggunakan kata ‘Nama’. Atau bahasa Khmernya Chhmoh. Yang dibaca Chmu.

Menyanyikan Hitungan
Sebenarnya sub judul ini tidak tepat. Tapi biarlah. Terserah saya saja. Penulis mah bebas.
Setelah itu kami bernyanyi dan berhitung. Dengan bahasa Indonesia. Caranya: Pertama dengan metode talaqqi. Salah satu metode baca Qur’an itu. Dengan di dikte melalui lisan.
Tetapi ternyata gagal. Lidah mereka gagal paham. Mungkin karena terlalu lama bicara Khmer. Salah mereka sendiri. Atau salah kami?
Cara pertama gagal. Lalu cara Kedua dengan menuliskan di papan. Agar bisa dibaca. Walaupun mustahil bisa baca. Bu Gurunya saja terbata-bata. Salah mereka sendiri. Kenapa tidak menggunakan bahasa Indonesia? Atau salah kami yang mengajar Indonesia di Kamboja? Ah Embuhlah.
Ternyata cara kedua berhasil. Ternyata mereka adalah generasi tekstualis. Ternyata, bunyi.
Kami mengajari mereka lagu yang “la.... la.... la.... la” itu. Liriknya:
Di sini senang, di sana Senang
Di mana-mana hatiku senang
La... la... la... la... la... La-nya diulang sekian kali. Sampai sesuai dengan not-nya.
Kemudian berhitung. Hitungan 1-10. Tulisannya angka. Tapi membacanya dengan huruf. Gini lho “Satu ... dua ... tiga ... empat ... lima ... enam ... tujuh ... delapan ... sembilan ... sepuluh”.
Alhamdulillah mereka bisa. Meskipun huruf ‘U’-nya jadi ‘O’. Meskipun 7 dibaca tuyuh.



 
Sawwu Shufufakum
Senam Penguin
Kegiatan kelas sudah selesai. Kini beralih ke lapangan. Untuk senam Penguin. Yang memutar-mutar itu. Juga bermain permainan tradisional-modern: gobak sodor, ‘maju-mundur’-an, dan tebak gerakan.
Lucu sekaligus ngenes. Mati gaya dan kehabisan akal. Karena wagu. Karena tidak hafal gerakannya. Karena sound systemnya tidak terdengar. Karena laptopnya error. Semua itu penyebabnya 1: Kurang persiapan. Juga terlalu meremehkan, “Weslah neng kono wae. Wonge yo gak eruh salah opo bener e”. 
Tetapi akhirnya berjalan. Setelah melalui beragam ubet-an. Termasuk speakernya Pak Guru Matematika. Yang harus diangkut ke sekolahan. “Hlah, katanya nggak ada speaker di sini”, Celetukku dalam hati.
Senam selesai. Kami melanjutkan agenda. Bermain gobak sodor, tebak gerakan, dan maju-mundur. Perintah ‘maju-mundur’nya dengan bahasa Indonesia. Bukan inggris atau khmer. 

Part 2
Dari Badai Dahsyat sampai Diundang Slametan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar