![]() |
| (bukan) Tersangka |
HARI
KEDUA DI PREY VENG
Kamis, 1 Agustus 2019
Mencari sepatu kiri yang hilang. Itulah pekerjaan pertama setelah bangun. Tentunya setelah sholat subuh.
Kamis, 1 Agustus 2019
Mencari sepatu kiri yang hilang. Itulah pekerjaan pertama setelah bangun. Tentunya setelah sholat subuh.
Saat itu baru saya, Pak Roland, dan beberapa teman yang
melek. Lainnya, nyawa belum sepenuhnya kembali. Pak Roland berdiri. Matanya menjelajah
seisi ruangan. Dahinya agak mengerut. Tanda fokus mencari ‘sesuatu’.
“Nyari apa Pak?”, Tanyaku pelan.
“Ini. Sepatu yang satunya ke mana ya. Tadi malam perasaan
saya taruh sini”, Jawabnya sembari menunjuk tempat awal sepatu.
“Sepertinya ada ‘sesuatu’ ini. Tadi malam soalnya ada ‘sesuatu’
yang masuk ruangan kita”, Lanjutnya. Tanpa memberi tahu apa ‘sesuatu’ itu.
Saya berpikir. Apakah ‘sesuatu’ itu adalah hantu? Ataukah
pencuri? Ataukah Anjing?. Terkaan itu terus bertengkar. Mana yang mewakili ‘sesuatu’
itu. Hantu? Bisa jadi. Karena sekolah itu di tengah sawah. Tapi mana mungkin
hantu mencuri sepatu?. Sepertinya bukan. Pencuri? Mungkin saja. Karena sekeliling
sekolah memang sepi. Ada lampu juga hanya di ruangan. Pun polisi berjaganya di
depan. Tapi mungkin kah hanya sepotong sepatu yang dicuri? Sementara barang
lain masih utuh.
Calon tersangka tinggal 1: Anjing. Anjing memang banyak
berkeliaran. Kami tahu saat sampai. Di sore kemarin. Tapi masak iya Anjing
mencuri sepatu? Pun cuma 1. Tidak mungkin juga Anjing berguru ke Rembo. Ayam
jantannya Tok Dalang. Yang hobinya mencuri sendal itu... Tapi, agaknya tuduhanku
menguat ke Anjing. Bukan karena musuh. Tapi dialah yang paling realistis
dituduh.
“Oh. Coba pak saya bantu cari”, tawarku.
Sendal dengan segera saya pakai. Mata saya pelototkan. Kaki
saya langkahkan. Menyusur ruangan. Tidak juga ketemu.
Lalu saya beranjak ke luar. Menjelajah halaman nan beceknya.
Juga ke lapangan. Lapangan rumput yang digenangi air. Sudah mirip kolam...
tidak juga ketemu. Saya agak menyerah. Sembari melunakkan tuduhan ke Anjing.
Tiba-tiba Pak Roland masuk ruangan. Bibirnya tersenyum. Tangannya
menenteng sepatu yang dicarinya.
“Ini sudah ketemu. Tadi di sanaaa” Jelasnya sambil
menunjuk tempat yang jauh.
“Hlo kok bisa Pak?” Tanyaku mengintrogasi.
“Nggak tahu. Kayaknya di bawa Anjing”, Jawabnya.
“Nah kan, Anjing”. Ucapku dalam hati. Sengaja tidak
kuucap lisan. Takut terdengar Anjing yang lewat. Bisa-bisa dimusuhi Anjing satu
desa. Apalagi saya orang asing di situ.
Tetapi pertanyaan lain muncul. Kok bisa Anjing iseng
nyuri sepatu? Apa yang menyebabkannya? Ataukah itu hanya ‘salam perkenalan’?
Pertanyaan itu akhirnya terjawab. Saat Eri atau Luthfi atau kedua-duanya bercerita. Cerita mereka awali dari ‘badai’ tadi malam. Hujan dibarengi angin kencang. Menerjang sekolah itu. Yang membuat jaring-jaring tempat tidur kaum Ibu tersingkap. Lebih tepatnya: terbang-terbang.“Kamu enak tidur” Katanya, bak menonjok ketidaktahuanku.Cerita berlanjut. Di saat seperti itu, 2 Anjing masuk ke ruangan tempat tidur. Berselonjor di pojok selatan utara. Lalu Anjing itu diusir oleh Pak Roland.
‘Oh Pantes. Pantes sepatunya Pak Roland dicuri’. Gumamku.
Mengapa?
Ternyata Anjing itu punya alasan logis. Alasan yang
membenarkan tindakannya. Ia ingin mencari tempat berteduh. Karena di
luar badai. Tetapi diusir oleh Pak Roland. Tanpa terlebih dahulu dimintai penjelasan.
Rupanya, Anjing itu ‘Balas Dendam’.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar