![]() |
Pembantaian 30 September 1965 benar-benar mengguncang Indonesia.
Upaya kudeta yang dikenal dengan G30S-PKI itu membuat NU harus bertindak
cepat. Melalui pemuda-pemudanya, NU menempati garda terdepan dalam aksi
anti PKI.
Pagi tanggal 1 Oktober, enam Jenderal AD diculik dan dibunuh.
Setelah itu, ada perwira menengah berhaluan kiri yang menyatakan di
radio bahwa mereka akan melindungi Soekarno dari kudeta yang disiapkan
oleh jenderal yang pro-CIA.
Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, Jenderal Soeharto,
Panglima Kostrad, menggilas gerakan ini. Siang hari dalam pidatonya, Ia
akan membasmi habis kaum komunis sampai ke akar-akarnya. Soeharto
mengambil alih kepemimpinan militer dan segera melancarkan aksi balasan
terhadap pelaku kudeta.
Kabar mengenai G30S sampai ke telinga ulama NU. Kabar itu berasal dari siaran radio yang memberikan tindakan para “perwira progresif” . Para ulama merasa was-was dan bingung terhadap pembantaian itu.
Upaya Awal yang dilakukan pemimpin NU adalah mencari informasi.
Sebagian besar tokoh NU sebenarnya sudah mencurigai ulah PKI di belakang
“Gerakan 30 September”. Sebuah rapat darurat memutuskan bahwa para
pemimpin NU yang sudah lanjut usia harus segera meninggalkan rumah
mereka untuk bersembunyi tanpa keluar kota.
Mandat kepemimpinan diserahkan kepada Zainuri Echsan Subchan yang
masih berumur 34 tahun, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Ketua IV
PBNU. Mulai dari sini, inisiatif perlawanan melawan PKI berada di tangan
orang-orang muda. Sedangkan senior NU bertindak dengan sangat
hati-hati, khawatir menimbulkan rasa tidak senang Presiden.
Dipilihnya Subchan merupakan hal yang wajar. Karena ia secara
vokal sangat anti-komunis. Selain itu, ia juga mempunyai hubungan
dengan beberapa jenderal Angkatan darat, utamanya dengan Jenderal A.H.
Nasution, satu-satunya jenderal yang lolos dari sergapan komunis. Ia
juga dekat dengan kelompok-kelompok pemuda dari luar lingkaran NU, baik
muslim maupun non-muslim. Ia juga dekat dengan Sarwo Edhie, ujung tombak
aksi anti-komunis.
Subchan merupakan pemuda NU yang kaya. Ia juga belum berkeluarga.
Hal itu memungkinkannya bergerak lebih cepat dan membiayai segala
keperluan para aktivis yang dikerahkan. Subchan juga cukup tangkas untuk
menanggulangi situasi yang rawan. Sebagai satu-satunya tokoh NU yang
dapat dihubungi di rumahnya, ia ditugaskan untuk “menjaga kekompakan NU
dan mempelajari siapa ini” yang di belakang peristiwa 1 Oktober. Subchan
diberi wewenang untuk bergabung dengan “siapa saja”.
Membentuk KAP-Gestapu
Keesokan harinya, tanggal 2 Oktober, bersama Harry Chan Silalahi
dari Partai Katolik, Subchan membentuk “Kesatuan Aksi Pengganyangan
Gerakan Kontra-Revolusi 30 September” (KAP-Gestapu). KAP Dijadikan
tempat untuk menggabungkan unsur-unsur pemuda Islam, nasionalis, dan
juga Kristen, yang menjadi titik persekutuan pemuda-pemuda anti-komunis.
Kelompok pemuda Islam di antaranya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI),
Pemuda Muhammadiyah, dan Pemuda NU (Ansor).
Ansor sendiri, melalui instruksi yang ditandatangani oleh Ketua Jahja Ubaied dan Sekretaris Umum Chalid Mawardi menyatakan untuk terus “mengadakan kontak dengan pimpinan, atasan, dan dengan alat negara…”.
Pada 3 Oktober, Ansor menginstruksikan anggota-anggotanya untuk
membantu pihak ABRI untuk memulihkan keamanan dan menjaga keutuhan
bangsa serta menyelamatkan revolusi di bawah pimpinan Presiden Soekarno.
Instruksi itu ditandatangani oleh Ketua Umum PP GP Ansor, H.A. Chamid
Wijaya. Untuk itu, dalam rangka menumpas G30S dan antek-anteknya, para
anggotanya diharap menunggu dan hanya melaksanakan instruksi dari
pimpinan koordinasi yang telah dibentuk di pusat dan akan dibentuk di
daerah.
Pada 4 Oktober malam, NU meminta supaya PKI dan semua organisasi
massanya dibubarkan. Melalui televisi dan radio, NU menyiarkan
pernyataan yang menuntut dibubarkannya PKI, gerakan, serta
media-medianya, dan menyerukan kepada seluruh kaum muslimin agar
mendukung ABRI untuk “memulihkan ketenteraman umum”.
Pernyataan itu sebenarnya diinisiasi oleh aktivis-aktivis muda
NU. Mereka berkumpul di rumah Istri Wahid Hasyim di pagi harinya.
Lagi-lagi Subchan berperan besar dalam memberi “restu” inisiatif
tersebut.
Di lain pihak, KAP-Gestapu mengadakan demonstrasi pertama yang menuntut pelarangan partai-partai yang telah merencanakan atau mendukung G30S, yaitu PKI dan organisasi-organisasinya, “yang mendalangi, mendukung dan/atau bersimpati” terhadap G30S. Statemen itu dibacakan oleh Subchan sendiri.
Selain itu, mereka juga menuntut agar harta orang-orang yang
tersangkut dalam peristiwa itu disita dan perangkat-perangkat pemerintah
segera dibersihkan dari unsur-unsurnya.
Para jenderal yang terbunuh di peristiwa G30S dimakamkan pada 5
Oktober. Saat itu, Yusuf Hasyim sebagai Komandan Banser menuju makam
pahlawan membawa pernyataan yang disiarkan malam sebelumnya. Di bawah
sebatang pohon kamboja, para pemimpin NU yakni Kiai Masykur dan Kiai
Dahlan menandatangani pernyataan tersebut.
Sehari setelahnya, PKI mencoba mencari perlindungan dari Presiden
Soekarno. Tampak partai yang memperoleh 30 kursi DPR pada pemilu
legislatif 1960 itu ingin cuci tangan terhadap peristiwa 30 September.
Pada 6 Oktober, PKI secara resmi menyerahkan penyelesaian masalah kudeta
kepada Presiden Soekarno dan memutuskan untuk menghindari perlawanan
fisik.
Membantu ABRI
Meskipun demikian, pemberantasan komunisme sejak saat itu telah
menjadi target utama Angkatan Bersenjata. NU menyerukan kepada
anggotanya untuk “membantu ABRI memulihkan ketenteraman”. Lebih jauh
lagi, melalui pernyataan beberapa kiai, menyiratkan ajakan kepada para
aktivis untuk mengganyang komunis.
Ajakan tersebut diperkuat oleh Harian NU, Duta Masyarakat, di tajuk rencananya pada 7 Oktober menyatakan bahwa: bahwa keputusan “yang paling tepat” dan paling baik adalah memberantasnya (para komunis), “akar-akarnya”, komplotannya, pembelanya, dan semua yang bertindak bersamanya, baik secara terbuka maupun tersembunyi.
Sejak 8 Oktober, gelombang demonstrasi anti PKI meluas. Para pemuda
muslim, termasuk Ansor membakar markas besar PKI di Jalan Kramat Raya,
Jakarta. Gedung-gedung milik komunis diobrak-abrik dan rumah-rumah tokoh
komunis juga diserang.
Pada 9 Oktober PBNU menyebarkan surat edaran ke seluruh
cabangnya. Isi suratnya mengutuk gerakan komunisme dan mensejajarkannya
dengan peristiwa Madiun 1948.
Tanggal 10 Oktober, pimpinan Ansor dari seluruh Jawa Timur
menggelar pertemuan. Pertemuan itu menghasilkan rencana unjuk rasa di
seluruh provinsi pada 13 Oktober. Unjuk rasa tersebut akhirnya memaksa
Soekarno mengalah pada Angkatan bersenjata dan mengangkat Suharto
sebagai Panglima AD menggantikan Jenderal Yani pada tanggal 14 Oktober.
Peran pemuda NU dalam mengganyang PKI masih berlanjut di bulan-bulan setelah itu.
*Kronologi disusun ulang berdasarkan sumber utama buku NU
vis-a-vis Negara (Andree Feillard) dan Ijtihad Politik Ulama: Sejarah NU
1952-1967 sebagai tambahan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar