Sabtu, 12 Oktober 2019

MENENGOK SEKOLAH PERSAHABATAN INDONESIA-KAMBOJA, TEMPAT MERAJUT ASA ANAK-ANAK KAMBOJA


Setelah Bermain Gobak Sodor dan Senam

BERDIRI sejak tahun 1995, Sekolah Persahabatan Indonesia – Kamboja kini mulai mendirikan bangunan baru. Sudah hampir setahun bangunan lama yang rapuh dirobohkan, diganti dengan bangunan semen dan besi. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan memperkuat semangat siswa dalam belajar.
Jarak yang jauh tak menghalangi semangat Tim KKN UIN Sunan Kalijaga untuk menengok Sekolah Persahabatan Indonesia – Kamboja pada Rabu, 31 Juli 2019 silam. Sekolah itu berada di Trabaek Commune, Provinsi Prey Veng. Jaraknya 108 KM dari Ibukota Phnom Penh. Tak kurang dari 3 jam waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke sana melalui perjalanan darat. Dari kejauhan, terlihat gerbang bertuliskan “Cambodia Indonesia Friendship School” lengkap dengan tulisan aksara Khmer. “Kita sudah sampai”, Kata Roland, pengajar di Pusat Kebudayaan Indonesia (PUSBUDI) KBRI Kamboja. Pria bernama lengkap Roland Uly Uju itu memang ditugaskan untuk mendampingi Tim KKN selama di Prey Veng. Ia sudah khatam seluk beluk Sekolah Persahabatan Indonesia – Kamboja ini.
Sekolahan itu dikelilingi pagar setinggi 2 meter. Di balik pagar terdapat bangunan setengah jadi yang kokoh berdiri. Terlihat para pekerja bangunan asyik berjibaku dengan material semen dan pasirnya. Sesekali mereka berhenti untuk menghela nafas di bawah pohon yang tidak terlalu rindang. Di halaman depan, sejauh mata memandang, air terlihat menggenang. Mengisi kekosongan struktur tanah yang tidak rata. “Hati-hati ya, becek, habis hujan sepertinya. Jangan sampai kepleset” Tutur Roland.
Pria asli Jember, Jawa Timur itu mengatakan kondisi seperti itu sudah lebih baik daripada beberapa tahun yang lalu. Kondisi sekolah sebelum tahun 2017 sangat memprihatinkan. Tembok bolong – bolong, rangka atap bangunan sudah lapuk, dan genteng yang hilang dibawa angin. Maklum saja, minimnya bangunan dan pepohonan tinggi di sekitar sekolah membuat angin bertiup begitu kencang. Bahkan hujan badai menjadi hal yang biasa terjadi sehari-hari ketika musim penghujan datang. 
Di Sekolah Persahabatan, kini hanya terdapat 4 ruang yang bisa digunakan. tiga ruang untuk belajar mengajar sekolah dasar, dan 1 lagi sebagai ruang guru. Sementara banyak ruang kelas lagi yang masih setengah jadi. 
 “Sekolah ini didirikan pada 1995 atas bantuan dari Indonesia. Saat itu pada pemerintahan Presiden Soeharto”, Ingat Eng Ban, Kepala Sekolah SMP Persahabatan. Ia menambahkan, kegiatan belajar mengajar dibagi ke dalam dua waktu, kelas pagi dan kelas sore. Kelas pagi masuk mulai pukul 7 sampai 12. Sementara kelas sore dimulai dari pukul 12 sampai 4 sore.

Merajut Asa anak-anak Kamboja

Matahari Kamis pagi menyingsing. Air tampak masih menggenang di banyak tempat, sisa dari hujan badai tadi malam. Jam digital smartphone baru menunjukkan pukul 06.20. Tetapi siswa-siswi SD sudah mulai berdatangan. Lengkap dengan pakaian putih-hitam khas siswa tingkat dasar. Acap kali pandangan mata mereka tertuju ke arah Tim KKN. “Mereka semangat sekali ya, padahal masuknya masih jam 7”, celetuk Rezaldy, anggota Tim KKN.
Langkah kaki kecil siswa-siswi SD tampak menyenangkan. Sesekali melompat ketika melewati genangan air hujan. Meskipun hanya beralaskan sandal jepit. Bahkan beberapa tidak memakai sandal. Tak mengurangi semangat mereka. Senyum ceria tetap terpancar dari wajah-wajah mungil itu. “Mereka sudah terbiasa seperti ini. Mungkin karena lingkungannya yang becek” Jelas Roland.  
 
Pagi itu, Tim KKN beranjak ke Pagoda di seberang jalan Sekolah Persahabatan. Tempat peribadatan umat Budha itu sementara waktu dimultifungsikan sebagai tempat belajar siswa-siswi SMP. Di gerbang masuk Pagoda ada 2 kolam berjajar. Keduanya dipisahkan oleh jalan keluar-masuk selebar 5 meter. “Anak-anak biasanya mandi rame-rame di sini. Seru sekali” terang Roland.
Terdapat 5 bangunan di Pagoda ini. Terdiri dari 3 bangunan ibadah dan 2 rumah panggung kayu. Dari 5 bangunan, hanya 2 yang digunakan untuk kelas sementara. Tiga kelas berada di Pagoda sebelah selatan. Dua kelas lainnya di sisi utara berupa rumah panggung yang tak berdinding samping. 
Roland lantas meminta izin kepada guru untuk mengajar di kelas. Mengetahui Tim KKN masuk kelas, para siswa duduk tenang bak patung Budha. “Di sini senang. Di sana senang. Di mana-mana hatiku senang” ucap Luthfi mengeja lirik lagu yang ditulisnya di papan, yang kemudian diikuti dengan terbata-bata oleh siswa. Lidah mereka tidak bisa melafalkan lirik dengan fasih. Sesekali tawa kebingungan menghiasi wajah beberapa siswa. Kesulitan demi kesulitan tersebut tak lantas membuat siswa patah arang. Mereka tetap antusias mengikuti pembelajaran yang diberikan Tim KKN. Sampai akhirnya para siswa Sekolah Persahabatan itu juga hafal hitungan satu sampai sepuluh.
Matahari siang mulai memanas. Tim KKN beranjak ke Sekolah Persahabatan. Berganti mengajar siswa-siswi tingkat dasar. Selepas dzuhur, Tim KKN masuk ke ruang kelas SD. “Saya tinggal ya. Silakan dihendel sendiri. Tadi saja bisa. Sekarang harus lebih bisa” Ujar Roland. 
 “No. They can’t speak english, just little (Tidak. Mereka tidak bisa berbicara dengan bahasa inggris, hanya sedikit-sedikit)” jawab guru matematika ketika ditanyai Eri mengenai berbicara dengan bahasa Inggris. Akhirnya guru matematika itu yang menerjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Khmer. Ia menjelaskan bahwa bahasa inggris yang diajarkan masih sangat dasar. Terutama kosa kata yang sudah diketahui secara umum. Itu-pun hanya beberapa anak yang bisa. 
Bermodalkan pengalaman di SMP sebelumnya, Tim KKN lebih rileks dalam menyampaikan materi. Seperti di SMP, Tim KKN juga mengajarkan lagu dan hitungan dalam bahasa Indonesia. Seringkali siswa berebut mengacungkan jari untuk unjuk gigi. Salah satunya Musa, siswa berambut pirang itu dengan semangat membaca angka 1 sampai 10. Meskipun gagal dalam mengucapkan huruf ‘J’ dalam angka 7. Mulutnya dengan keras mengucapkan ‘tuyuh’, bukan ‘tujuh’ sebagaimana mestinya.
Di akhir kelas, Tim KKN memberi apresiasi dan kenang-kenangan. Tak kurang 30 gantungan kunci dan stiker dibagikan kepada para siswa SD Sekolah Persahabatan. 
“Sekolah ini mengajarkan kepada kita betapa kekurangan tidak menjadi alasan untuk putus semangat dalam mencari ilmu.” ucap Dliya’ul Haq, memungkasi kegiatan di Kamis sore itu.

Baca juga: Tentang Indonesia di Negara Tetangga

1 komentar: