Minggu, 13 Oktober 2019

TENTANG INDONESIA DI NEGARA TETANGGA

Hey, mari ke sini, Saya (kami) ceritakan, cerita tentang Indonesia di negara tetangga. Sedikit Saya rangkum, dalam pengembaraan 24 hari KKN Kami, di “Hell on Earth”, Kamboja. Paling tidak, ada 3 hal tentang Indonesia, yang memaksa bibir tersenyum bangga. (1) Ketika di Prey Veng, (2) Norol Iman, dan (3) Liburan ke Ho Chi Minh:

1. Sekolah Persahabatan Indonesia - Kamboja di Prey Veng

Setelah Mengajar Berhitung dan Bernyanyi Bahasa Indonesia

    Ya, namanya “Sekolah Persahabatan”. Jangan tanya lagi apa artinya. Sekolah ini didirikan semenjak 1995, pada masa presiden 32 tahunnya Indonesia. Tujuannya? Apalagi kalau bukan mempererat hubungan bilateral kedua Negara ini, di samping faktor pendidikan tentunya. Letaknya (tidak) jauh, (cuman) 108 dari KBRI Phnom Penh. Bahkan tidak lebih dekat dengan perbatasan Vietnam yang hanya 40-an KM. Di sini, orang-orangnya sangat baik, gurunya baik, siswanya baik, pekerja bangunannya baik. Terlebih kepada Kami, untungnya, Kami membawa nama Indonesia. (Terimakasih Indonesia. Untung). Mereka sangat antusias, di tengah serba kekurangan (menurut kacamata Kami, warga Indonesia yang tiap hari hidup agak kota), mereka tetap menjamu Kami. Andai saja Kami mau, 2 ekor ayam sudah jadi santapan Kami di hari pertama. Untung, Kami maunya hanya 1.

Di sekolah ini, memang semuanya anak-anak Kamboja, tapi sangat antusias kalau berinteraksi dengan “Orang Indonesia”. Alhamdulillah, paling tidak, mereka sudah berhasil menghafal lagu “Di sini senang, Di sana senang”, dan hitungan 1-10 (dalam bahasa Indonesia). Kami di sana mulai 31 Juli sore – 2 Agustus siang.

Baca juga: KKN Modal Doa

2. Norol Iman Chroymetrey High School


Apel pagi NICHS
Ini adalah sebuah sekolah. Ya di sinilah, di sekitar lingkungan ini Kami mengajar. Dan tidur juga menginap sebagai pekerjaan sampingan. (nggak kebalik?). Tanggal 4 Agustus sore Saya dibikin geleng-geleng oleh Jennah dkk, “anakku” semasa di sini. Dengan PDnya Saya sok mengajari mereka berhitung satu – sepuluh. (jebul) ternyata, mereka sudah pada tahu. Lancar-lancar bahkan. (jebul lagi) ternyata, hitungan dalam bahasa Cham, mirip dengan hitungan dalam bahasa Indonesia. Paling tidak 1-10.

Keesokan harinya, Senin, 5 Agustus Saya (Kami) lebih dibuat geleng-geleng kepala lagi. Bukan saja berhitung, bahkan nyanyi-pun, lagu Indonesia. Hm hm hm hm hm hm. lagunya saya lupa apa saja. Tapi yang jelas, ada “Di sini senang”. Apa lagunya bro @wenny @eri dll?
Di lingkungan sekitar-pun juga sama, lagu favorit adalah sholawatannya mbak Nisa Sabyan. Ealah, Luwar Negeri serasa Indonesia.
Baca juga: Menengok Sekolah Persahabatan Indonesia-Kamboja

3. Ho Chi Minh, Vietnam

Masjid Al Rahim
Ya Vietnam, bukan di Kamboja lagi. 12 malam -14 pagi Agustus 2019, Kami melancong ke sini, mumpung siswa sekolah dan mbak-mbak santriwati Norol Iman libur. “Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui”, katanya. Tapi kali ini, “Sekali naik bus 7 jam, delapan kali mabok”, itu Saya.

13 Agustus siang, kira-kira pukul 2, setelah berbelanja oleh-oleh (buat kalian hay teman-temanku) di pasar, Kami menuju masjid. Ternyata, masjid terdekat tidak sampai 1 km, lebih pasnya 950 m dari posisi Saya buka maps. Al-Rahim nama masjidnya. Agak mengejutkan, yang saya pikir “tidak ada masjid” di negeri yang bersistem komunis ini. (jebul) lumayan banyak masjid yang terdeteksi dalam radar pencarian maps (meskipun jarak juga jauh jauh). 

Kami berjalan, Saya paling depan dengan memelototi maps. Dan........ ketemu. “I N D O N E S I A”, terpampang jelas di bawah tulisan “Al-Rahim”. “Waw. Masya Allah, Subhanallah. Ini masjid Kita kawan” teriakku. Tulisan lengkap di masjidnya, “Masjid Al-Rahim. Malaysia – Indonesia”. Tak disangka, tak disengaja, lagi-lagi bisa menemukan kata INDONESIA. 

Kami masuk di lantai 2, ada seorang bapak. Kami menyalaminya, lalu sholat dzuhur. Selesai sholat, Saya dekati bapak itu yang sedari Kami sampai, senyum. Dengan sedikit isyarat, saya berkata pelan-pelan “Kami dari Indonesia”. “Wuuu Indonesia” Bapak itu tertawa kegirangan. Sembari berbicara bahasa (embuh), bapak itu mengisyaratkan “Nomor 1”. “Muslim terbesar nomor 1” kira-kira begitu Saya menangkapnya. “Alhamdulillah. Masya Allah” ucap lagi bapak yang diketahui bernama Ahmad Zakiy itu. Tak banyak yang bisa Kami komunikasikan dengan beliau, sebab beliau sangat sedikit bisa bahasa melayu, Kami-pun buta akan bahasa Vietnam. Ditambah sinyal yang ‘mpet-mpetan’ sehingga google translate tidak bisa didownload.

Hm hm hm I N D O N E S I A. Kami kok bangga kepadamu. Semoga Kamu juga bangga ya kepada Kami, butiran debu vulkanik Merapi ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar