“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak”(HR.Bukhari dalam Al-Adaab Al-Mufrad)
Akhlak merupakan syarat utama yang harus dimiliki
oleh manusia. Derajat kemuliaan yang dilabelkan kepada manusia bergantung
dengan seberapa tinggi akhlak yang dimiliki. Betapa pun tinggi jabatan, harta,
pendidikan seseorang, bila akhlaknya buruk, pasti ia akan menjadi ‘kacung’ di
tengah masyarakat.
Siapa yang tak mengenal Nabi Muhammad ﷺ? Sosok paripurna ketika berbincang perihal akhlak. Panutan dalam membangun
kepribadian luhur. Akhlaknya tidak saja disenangi oleh kawan, tapi disegani
pula oleh lawan. Secara fisik Ia tak begitu berbeda dengan mayoritas
masyarakat: bersorban, berjubah, berjenggot. Sama seperti model Abu Lahab dan
Abu Jahal. Yang berbeda, Muhammad ﷺbermuka ramah, bukan marah.
Mungkin kita perlu membuka goresan tinta sejarah. Betapa
unggulnya akhlak beliau, terlebih dalam rangka mendidik umat manusia. Ketika
tergopoh tak berdaya sesaat setelah dihujani batu oleh penduduk Thaif.
Datanglah Jibril bersama malaikat penjaga Gunung Abu Qubais dan Qaiqa’an.
Mereka menawarkan untuk meratakan kedua gunung tersebut ke penduduk Thaif.
Tetapi dengan kelembutannya, Muhammad ﷺ menjawab, “Jangan.
Mereka melakukan itu karena mereka belum tahu”. Pun begitu, beliau malah
mendoakan kebaikan bagi penduduk Thaif.
Dihina, dicaci maki, diludahi, dilempari batu, dan banyak
lainnya tidak lantas menjadikan Muhammad ﷺ bertransformasi menjadi Abu
Jahal. Sikap ramah, lemah lembut tetap Ia tunjukkan. Sehingga orang lain, bisa
menerima kebenaran Islam secara sukarela. Kisah seorang tua buta di sudut pasar
di Kota Madinah menjadi satu di antara sekian banyak bukti.
Di zaman sekarang, Islam sering dicitrakan sebagai agama
yang keras, intoleran. Paling tidak bagi mereka kaum di luar Islam. Celakanya,
internal Islam pun bersikap reaktif. Kurang bisa menahan diri, sebagaimana yang
Muhammad ﷺ telandankan. Alih-alih memperbaiki
wajah Islam, malah semakin mempersangar citra Islam.
Sebagai anti-tesis sekaligus konklusi, Pendidik (guru,
da’i) haruslah mampu meng-injeksi-kan kemuliaan akhlak Nabi Muhammad ﷺ ke dalam pribadi mereka. Akhlak tetap harus dikedepankan dalam rangka
menyiarkan pesan Ilahi. Kemarahan dan kesangaran harus direduksi sesegera
mungkin. Karena tentu semua ingin, agar Islam dipandang sebagai agama yang
ramah, bukan agama marah. Dengan begitu, orang akan sukarela menerima Islam
sebagai keyakinannya.
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”(QS.Ali-Imran: 159)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar