Sabtu, 12 Oktober 2019

RASULULLAH MUHAMMAD: PENDIDIK AKHLAK PARIPURNA

 

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak”
(HR.Bukhari dalam Al-Adaab Al-Mufrad)

Akhlak merupakan syarat utama yang harus dimiliki oleh manusia. Derajat kemuliaan yang dilabelkan kepada manusia bergantung dengan seberapa tinggi akhlak yang dimiliki. Betapa pun tinggi jabatan, harta, pendidikan seseorang, bila akhlaknya buruk, pasti ia akan menjadi ‘kacung’ di tengah masyarakat.

Siapa yang tak mengenal Nabi Muhammad ? Sosok paripurna ketika berbincang perihal akhlak. Panutan dalam membangun kepribadian luhur. Akhlaknya tidak saja disenangi oleh kawan, tapi disegani pula oleh lawan. Secara fisik Ia tak begitu berbeda dengan mayoritas masyarakat: bersorban, berjubah, berjenggot. Sama seperti model Abu Lahab dan Abu Jahal. Yang berbeda, Muhammad  bermuka ramah, bukan marah.

Mungkin kita perlu membuka goresan tinta sejarah. Betapa unggulnya akhlak beliau, terlebih dalam rangka mendidik umat manusia. Ketika tergopoh tak berdaya sesaat setelah dihujani batu oleh penduduk Thaif. Datanglah Jibril bersama malaikat penjaga Gunung Abu Qubais dan Qaiqa’an. Mereka menawarkan untuk meratakan kedua gunung tersebut ke penduduk Thaif. Tetapi dengan kelembutannya, Muhammad menjawab, “Jangan. Mereka melakukan itu karena mereka belum tahu”. Pun begitu, beliau malah mendoakan kebaikan bagi penduduk Thaif.
Dihina, dicaci maki, diludahi, dilempari batu, dan banyak lainnya tidak lantas menjadikan Muhammad bertransformasi menjadi Abu Jahal. Sikap ramah, lemah lembut tetap Ia tunjukkan. Sehingga orang lain, bisa menerima kebenaran Islam secara sukarela. Kisah seorang tua buta di sudut pasar di Kota Madinah menjadi satu di antara sekian banyak bukti.

Di zaman sekarang, Islam sering dicitrakan sebagai agama yang keras, intoleran. Paling tidak bagi mereka kaum di luar Islam. Celakanya, internal Islam pun bersikap reaktif. Kurang bisa menahan diri, sebagaimana yang Muhammad telandankan. Alih-alih memperbaiki wajah Islam, malah semakin mempersangar citra Islam.

Sebagai anti-tesis sekaligus konklusi, Pendidik (guru, da’i) haruslah mampu meng-injeksi-kan kemuliaan akhlak Nabi Muhammad ke dalam pribadi mereka. Akhlak tetap harus dikedepankan dalam rangka menyiarkan pesan Ilahi. Kemarahan dan kesangaran harus direduksi sesegera mungkin. Karena tentu semua ingin, agar Islam dipandang sebagai agama yang ramah, bukan agama marah. Dengan begitu, orang akan sukarela menerima Islam sebagai keyakinannya. 


“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”
(QS.Ali-Imran: 159)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar