![]() |
| KBRI Phnom Penh |
Mau KKN di
mana? KKN yang apa?
Itu kira-kira
pertanyaan yang berseliweran di benak teman-teman. Terutama yang ‘otw’ semester
6 atau semester 8 (dan 10) yang belum KKN. Pertanyaan itu juga yang dulu
dipertanyakan mahasiswa yang akan KKN.
KKN tahun ini
sepertinya tidak akan jauh berbeda dengan tahun kemarin. Masih akan dibagi ke
dalam 5 ‘jalan’: Internasional, Luar Jawa, Tematik, Mandiri, dan Reguler. Bedanya
mungkin hanya sedikit. Yang paling jelas adalah tempatnya yang berbeda, dari
Kamboja ke Malaysia. Lalu dari Pulau Sumatera (Lampung) ke Pulau Papua
(Jayapura), dari Pulau Sulawesi (Gorontalo) dan Kalimantan Selatan ke 2 kecamatan
di Kalimantan Barat yang bertetangga. Itu berdasar informasi yang baru dirilis.
Itu juga baru
yang Internasional dan Luar Jawa.
Tematik akan
menyusul di kloter kedua. Lalu disusul reguler di kloter paling buncit. Sangat
boleh jadi setelah lebaran. Kalau tidak keduluan PD ke-3.
Memang, terdapat
perbedaan waktu penyebaran informasi. Tahun lalu informasi KKN Internasional,
Luar Jawa, dan Tematik jadi satu paket di bawah titel ‘KKN Tematik’. Tetapi
penginformasiannya tidak se-gasik sekarang. Dulu 1 April baru ada
informasi itu. Barengan. Sedang sekarang, akhir pekan pertama Februari pun
sudah ada informasi dua KKN itu. Ditambah pengumuman hasil seleksi wawancara
yang 9 Maret. Semoga saja tidak mundur 2 pekan--seperti kami. Entoh pun kalau mundur,
masih sangat lama dai pemberangkatan. Dugaan saya, LPPM ingin sesuatu yang
lebih matang, mulai dari pendaftaran, penyeleksian, persiapan kelompok, sampai
pelaksanaan. Karena mau tidak mau peminat untuk tahun ini akan meningkat.
Idealnya.
Sedang KKN
Tematik dan reguler tampaknya tidak akan mengalami perubahan. Kalaupun ada,
sangat sedikit. Alasannya: jumlah peserta dan tempat yang sangat banyak. Akan
sangat pekewuh jika diaduk lagi. Untuk sowan kembali ke desa-desa itu saja
butuh waktu 3 bulan lebih bagi LPPM. Itu menurut penuturan mantan ketua LPM
yang dulu.
Untuk Tema di KKN Tematik tahun lalu, nanti akan saya share. Nanti.
KKN Internasional
Tahun ini adalah
yang kedua. Tahun lalu di Kamboja, negara yang tidak terlalu bertangga dengan
Indonesia. Jauh. Dipisah oleh Laut Cina Selatan.
Sementara tahun
ini di Serawak. Serawak ini satu dari 13 negara bagian Malaysia. Atau satu dari
2 negara bagian yang berada di ‘pulau’ Malaysia Timur.--Ibu kota negara di
Malaysia Barat.
Letaknya:
sampingnya Kalimantan. Lebih spesifik: Utaranya Kalimantan Barat, provinsi
untuk KKN 2 kelompok lainnya.
Jadi bisa
teman-teman bayangkan sendiri. Atau bisa dilihat di google maps--bagi yang
bermazhab Bumi Bulat-. Bahwa 3 KKN ini akan berada dalam ‘satu Pulau’, di
Kalimantan.
Tetapi entohpun
demikian, itu bukan soal. Yang penting: Internasional. Yang artinya juga: Kudu
buat paspor. Yang biayanya 350 ribu.
Tapi itu bukan
soal. Yang penting: Pengalaman.
Ya. Teman-teman
akan menemukan pengalaman baru. Budaya baru. Dan banyak yang baru. Karena
meskipun berbatasan darat dengan Kalimantan Barat, pemerintahannya tetap ikut
Malaysia bagian barat--meskipun terpisah laut yang sangat lebar.
Mata uangnya
tetap Ringgit.
Bahasanya tetap
‘Upin-Ipin’.--Meskipun sukunya beda.
Dan orangnya
tetap Muslim.
Meskipun agama
terbesar di Serawak adalah Kristen. Karena pemeluk Kristen mencapai 46,2% dari
total populasi. Sementara 53,8% lainnya digenapi oleh Islam, Konghuchu, Buddha,
Tao, dan Animisme.
Tetapi berita
bagusnya: teman-teman akan ditempatkan di kawasan muslim. Tahu darimana? Lihat
saja pengumuman. Temanya: “Pemberdayaan Sosial Keagamaan”. Sama dengan tema
saya (kami) dulu. Bedanya kami mendapat bonus “Melalui Pendampingan Madrasah
Diniyah” di belakang tema itu.
Persoalan apakah
lingkungannya berbatasan dengan komunitas Kristen atau tidak, saya belum tahu.
Karena belum nyari. Atau memang tidak akan mencari. Itu tugasnya teman-teman
yang nantinya lolos.
Tetapi
seandainya berdekatan juga akan bagus. Pengalaman akan semakin plus-plus.
Kalau juga:
KKN-nya tidak di perbatasan Kalbar-Serawak.
Tetapi dugaan
saya: tidak akan di perbatasan. Alasan: KJRI berada jauh dari perbatasan. Itu
alasan utamanya. Itu juga berdasar pengalaman kami dulu. Tidak akan jauh-jauh
dari wakil pemerintahan Indonesia.
Kami di
Kamboja ditempatkan di ‘dekat’ KBRI. Yang jaraknya hanya 40-an km. Yang hanya
memerlukan 1-1,5 jam perjalanan. Meskipun berbeda provinsi: KBRI di Phnom Penh,
KKN di Kandal.
Sementara di
Serawak tidak ada KBRI. Adanya KJRI. Singkatan dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia.
KJRI ini adalah kantor perwakilan konsuler Indonesia di wilayah tertentu negara
asing. Dipimpin oleh konsul jenderal (konjen).
KJRI di Malaysia
ada 4: tiga di Malaysia Barat, satu di Malaysia Timur. Yang di Malaysia Timur,
untungnya ada di Serawak. Tepatnya di Kota Kuching, ibu kotanya Serawak.
Kemungkinan besar teman-teman nanti akan mendapat di bandaranya. Yang namanya
Kuching International Airport.--Akhirnya ada Internationalnya.
Sementara
KBRI-nya ada di Kuala Lumpur. Ibukotanya Malaysia. Yang letaknya di Malaysia
Barat. Yang jaraknya hanya 2,5 km dari Twin Tower Malaysia. Driver Grab
nantinya akan memberitahu teman-teman gedung KBRI-nya. Kalau sempat main ke
Twin Tower. Kalau transit pesawatnya lama. Semoga saja. (Kami dulu transit
pesawat 7 jam, jadi bisa menyempatkan)
Sederhananya:
KJRI adalah versi mininya KBRI.
Tetapi jangan
risau, perayaan 17-an kalian akan diudang ke KJRI. Diminta ikut bantu-bantu.
Harusnya. Semoga saja.
Kalau iya.
Bakalan seru banget.
Kalau tidak.
Tetap akan seru: kumpul bersama orang Indonesia di negara orang. Di situlah
status ke-WNI-anmu akan terasa afdhol. Hahaha.
Plusnya yang
lain: sebagian dari kalian akan ikut Idul Adha di KJRI. Rasakan pecel dan sate
di Malaysia. Semoga saja. (Saya dulu begitu. Ditambah lontong dan opor ayam
khas lebaran Indonesia).
Tapi Ingat:
Kalau dekat.
Kalau ternyata
tempat KKN di ujung selatan Serawak. Yang dekat dengan Brunei. Maka: berdoa
saja. Tetapi dugaan saya: tidak mungkin jauh dari KJRI.
Atau malah mau
ke KBRI-nya Brunei?
Sekalian
jalan-jalan.
Berdoa saja.
Dugaan saya yang lain: teman-teman akan lebih bisa banyak mengabdinya di tempat KKN. Juga bisa lebih maksimal. Alasannya: Pertama, bahasanya mudah. Atau paling tidak masih bisa dicerna otak. Yang sering liat Upin-Ipin akan paham. Atau yang biasa menggunakan bahasa Indonesia di percakapan sehari-hari. Berbeda dengan kami yang sama sekali tidak paham bahasa Khmer --dan Cham-. Benar-benar berbeda. Sehingga untuk komunikasi dengan warga sekitar hanya menggunakan isyarat: senyum. Nunjuk pakai jari. Atau isyarat menyamakan nominal uang dengan penjual jika beli kebutuhan di pasar.
Kedua, jauh dari KBRI, sehingga tidak banyak bolak-balik seperti kami. Yang harus 4x ke KBRI: kedatangan, Idul Adha, Agustusan, kepulangan.
Ketiga, jauh dari pusat Ibu Kota. Sehingga godaan untuk melancong besar. --saya tidak tahu: Kuching seperti apa. Apakah menggoda atau tidak.
Keempat, di Serawak tidak ada 'monumen' persahabatan Indonesia-Malaysia. Sedangkan kami dulu ada monumen. Yang monumen itu diurus. Karena hidup. Yakni "Sekolah Persahabatan Indonesia-Kamboja". 3 hari 2 malam awal kami di situ.
Gambarannya kami dulu begini:
29-30 Juli: Berangkat (24 jam mulai dari Adi Sucipto sampai ke tempat KKN)
31 Juli - 2 Agustus: Ke KBRI lanjut ke Sekolah Persahabatan
2 - 4 Agustus: KKN (Kembali ke tempat KKN dan pengenalan lingkungan)
5 - 10 Agustus: KKN (Ngajar di sekolahan dan kegiatan)
11 - 13 Agustus: Libur (Idul Adha dan sekolah)
14 - 16 Agustus: KKN (Lomba Agustusan dan kegiatan lain)
16 - 17 Agustus: KBRI (Perayaan 17 Agustusan di KBRI.--Kami menginap di Wisma KBRI)
18 - 20 Agustus: KKN (Kegiatan di asrama)
21 Agustus: Pamit KBRI dan eksplor Kamboja
22 Agustus: Pulang
Hitung saja. Yang saya sendiri merasakan: betapa kurangnya waktu kami untuk mengajar di sekolah. Tidak genap sepekan.
Sederhananya: dari 3 pekan KKN, hanya 2 pekan yang benar-benar fokus di tempat 'sebenarnya' KKN.
Kedua, jauh dari KBRI, sehingga tidak banyak bolak-balik seperti kami. Yang harus 4x ke KBRI: kedatangan, Idul Adha, Agustusan, kepulangan.
Ketiga, jauh dari pusat Ibu Kota. Sehingga godaan untuk melancong besar. --saya tidak tahu: Kuching seperti apa. Apakah menggoda atau tidak.
Keempat, di Serawak tidak ada 'monumen' persahabatan Indonesia-Malaysia. Sedangkan kami dulu ada monumen. Yang monumen itu diurus. Karena hidup. Yakni "Sekolah Persahabatan Indonesia-Kamboja". 3 hari 2 malam awal kami di situ.
Gambarannya kami dulu begini:
29-30 Juli: Berangkat (24 jam mulai dari Adi Sucipto sampai ke tempat KKN)
31 Juli - 2 Agustus: Ke KBRI lanjut ke Sekolah Persahabatan
2 - 4 Agustus: KKN (Kembali ke tempat KKN dan pengenalan lingkungan)
5 - 10 Agustus: KKN (Ngajar di sekolahan dan kegiatan)
11 - 13 Agustus: Libur (Idul Adha dan sekolah)
14 - 16 Agustus: KKN (Lomba Agustusan dan kegiatan lain)
16 - 17 Agustus: KBRI (Perayaan 17 Agustusan di KBRI.--Kami menginap di Wisma KBRI)
18 - 20 Agustus: KKN (Kegiatan di asrama)
21 Agustus: Pamit KBRI dan eksplor Kamboja
22 Agustus: Pulang
Hitung saja. Yang saya sendiri merasakan: betapa kurangnya waktu kami untuk mengajar di sekolah. Tidak genap sepekan.
Sederhananya: dari 3 pekan KKN, hanya 2 pekan yang benar-benar fokus di tempat 'sebenarnya' KKN.
Sepertinya
tulisan ini sudah mencapai 1000 kata. Maka untuk Luar Jawa dan yang belakangnya
saya tulis di lembar yang lain. Demi keselamatan mata dan jempol Anda.
Jika teman-teman
nanti lolos ke Serawak. Kemungkinan perjalanannya ada dua: Kuala Lumpur atau
Pontianak. Lebih rincinya begini:
Yogyakarta (Adi
Sucipto) ke Serawak (Kuching International Airport)
1.
Yogyakarta – Jakarta –
Kuala Lumpur – Serawak (5 jam terbang di udara, 10-15 jam dengan transit.
2.
Yogyakarta – Jakarta –
Pontianak – Serawak (3 jam 40 menit di atas awan, 14-an jam dengan transit)
(Jalur
pertama lebih banyak)
KKN Luar Jawa
dkk menyusul di mari
