Jumat, 14 Februari 2020

KKN: Internasional, Luar Jawa, Tematik, Mandiri atau Reguler?


KBRI Phnom Penh

Mau KKN di mana? KKN yang apa?
Itu kira-kira pertanyaan yang berseliweran di benak teman-teman. Terutama yang ‘otw’ semester 6 atau semester 8 (dan 10) yang belum KKN. Pertanyaan itu juga yang dulu dipertanyakan mahasiswa yang akan KKN.

KKN tahun ini sepertinya tidak akan jauh berbeda dengan tahun kemarin. Masih akan dibagi ke dalam 5 ‘jalan’: Internasional, Luar Jawa, Tematik, Mandiri, dan Reguler. Bedanya mungkin hanya sedikit. Yang paling jelas adalah tempatnya yang berbeda, dari Kamboja ke Malaysia. Lalu dari Pulau Sumatera (Lampung) ke Pulau Papua (Jayapura), dari Pulau Sulawesi (Gorontalo) dan Kalimantan Selatan ke 2 kecamatan di Kalimantan Barat yang bertetangga. Itu berdasar informasi yang baru dirilis.

Itu juga baru yang Internasional dan Luar Jawa.

Tematik akan menyusul di kloter kedua. Lalu disusul reguler di kloter paling buncit. Sangat boleh jadi setelah lebaran. Kalau tidak keduluan PD ke-3.

Memang, terdapat perbedaan waktu penyebaran informasi. Tahun lalu informasi KKN Internasional, Luar Jawa, dan Tematik jadi satu paket di bawah titel ‘KKN Tematik’. Tetapi penginformasiannya tidak se-gasik sekarang. Dulu 1 April baru ada informasi itu. Barengan. Sedang sekarang, akhir pekan pertama Februari pun sudah ada informasi dua KKN itu. Ditambah pengumuman hasil seleksi wawancara yang 9 Maret. Semoga saja tidak mundur 2 pekan--seperti kami. Entoh pun kalau mundur, masih sangat lama dai pemberangkatan. Dugaan saya, LPPM ingin sesuatu yang lebih matang, mulai dari pendaftaran, penyeleksian, persiapan kelompok, sampai pelaksanaan. Karena mau tidak mau peminat untuk tahun ini akan meningkat. Idealnya.

Sedang KKN Tematik dan reguler tampaknya tidak akan mengalami perubahan. Kalaupun ada, sangat sedikit. Alasannya: jumlah peserta dan tempat yang sangat banyak. Akan sangat pekewuh jika diaduk lagi. Untuk sowan kembali ke desa-desa itu saja butuh waktu 3 bulan lebih bagi LPPM. Itu menurut penuturan mantan ketua LPM yang dulu.

Untuk Tema di KKN Tematik tahun lalu, nanti akan saya share. Nanti. 

KKN Internasional
Tahun ini adalah yang kedua. Tahun lalu di Kamboja, negara yang tidak terlalu bertangga dengan Indonesia. Jauh. Dipisah oleh Laut Cina Selatan.

Sementara tahun ini di Serawak. Serawak ini satu dari 13 negara bagian Malaysia. Atau satu dari 2 negara bagian yang berada di ‘pulau’ Malaysia Timur.--Ibu kota negara di Malaysia Barat.

Letaknya: sampingnya Kalimantan. Lebih spesifik: Utaranya Kalimantan Barat, provinsi untuk KKN 2 kelompok lainnya.

Jadi bisa teman-teman bayangkan sendiri. Atau bisa dilihat di google maps--bagi yang bermazhab Bumi Bulat-. Bahwa 3 KKN ini akan berada dalam ‘satu Pulau’, di Kalimantan.

Tetapi entohpun demikian, itu bukan soal. Yang penting: Internasional. Yang artinya juga: Kudu buat paspor. Yang biayanya 350 ribu.

Tapi itu bukan soal. Yang penting: Pengalaman.

Ya. Teman-teman akan menemukan pengalaman baru. Budaya baru. Dan banyak yang baru. Karena meskipun berbatasan darat dengan Kalimantan Barat, pemerintahannya tetap ikut Malaysia bagian barat--meskipun terpisah laut yang sangat lebar.

Mata uangnya tetap Ringgit.
Bahasanya tetap ‘Upin-Ipin’.--Meskipun sukunya beda.
Dan orangnya tetap Muslim.
Meskipun agama terbesar di Serawak adalah Kristen. Karena pemeluk Kristen mencapai 46,2% dari total populasi. Sementara 53,8% lainnya digenapi oleh Islam, Konghuchu, Buddha, Tao, dan Animisme.

Tetapi berita bagusnya: teman-teman akan ditempatkan di kawasan muslim. Tahu darimana? Lihat saja pengumuman. Temanya: “Pemberdayaan Sosial Keagamaan”. Sama dengan tema saya (kami) dulu. Bedanya kami mendapat bonus “Melalui Pendampingan Madrasah Diniyah” di belakang tema itu.

Persoalan apakah lingkungannya berbatasan dengan komunitas Kristen atau tidak, saya belum tahu. Karena belum nyari. Atau memang tidak akan mencari. Itu tugasnya teman-teman yang nantinya lolos.

Tetapi seandainya berdekatan juga akan bagus. Pengalaman akan semakin plus-plus.
Kalau juga: KKN-nya tidak di perbatasan Kalbar-Serawak.

Tetapi dugaan saya: tidak akan di perbatasan. Alasan: KJRI berada jauh dari perbatasan. Itu alasan utamanya. Itu juga berdasar pengalaman kami dulu. Tidak akan jauh-jauh dari wakil pemerintahan Indonesia.

Kami di Kamboja ditempatkan di ‘dekat’ KBRI. Yang jaraknya hanya 40-an km. Yang hanya memerlukan 1-1,5 jam perjalanan. Meskipun berbeda provinsi: KBRI di Phnom Penh, KKN di Kandal.

Sementara di Serawak tidak ada KBRI. Adanya KJRI. Singkatan dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia. KJRI ini adalah kantor perwakilan konsuler Indonesia di wilayah tertentu negara asing. Dipimpin oleh konsul jenderal (konjen).

KJRI di Malaysia ada 4: tiga di Malaysia Barat, satu di Malaysia Timur. Yang di Malaysia Timur, untungnya ada di Serawak. Tepatnya di Kota Kuching, ibu kotanya Serawak. Kemungkinan besar teman-teman nanti akan mendapat di bandaranya. Yang namanya Kuching International Airport.--Akhirnya ada Internationalnya.

Sementara KBRI-nya ada di Kuala Lumpur. Ibukotanya Malaysia. Yang letaknya di Malaysia Barat. Yang jaraknya hanya 2,5 km dari Twin Tower Malaysia. Driver Grab nantinya akan memberitahu teman-teman gedung KBRI-nya. Kalau sempat main ke Twin Tower. Kalau transit pesawatnya lama. Semoga saja. (Kami dulu transit pesawat 7 jam, jadi bisa menyempatkan)

Sederhananya: KJRI adalah versi mininya KBRI.
Tetapi jangan risau, perayaan 17-an kalian akan diudang ke KJRI. Diminta ikut bantu-bantu. Harusnya. Semoga saja.
Kalau iya. Bakalan seru banget.

Kalau tidak. Tetap akan seru: kumpul bersama orang Indonesia di negara orang. Di situlah status ke-WNI-anmu akan terasa afdhol. Hahaha.
Plusnya yang lain: sebagian dari kalian akan ikut Idul Adha di KJRI. Rasakan pecel dan sate di Malaysia. Semoga saja. (Saya dulu begitu. Ditambah lontong dan opor ayam khas lebaran Indonesia).

Tapi Ingat: Kalau dekat.
Kalau ternyata tempat KKN di ujung selatan Serawak. Yang dekat dengan Brunei. Maka: berdoa saja. Tetapi dugaan saya: tidak mungkin jauh dari KJRI.
Atau malah mau ke KBRI-nya Brunei?
Sekalian jalan-jalan.
Berdoa saja.

Dugaan saya yang lain: teman-teman akan lebih bisa banyak mengabdinya di tempat KKN.  Juga bisa lebih maksimal. Alasannya: Pertama, bahasanya mudah. Atau paling tidak masih bisa dicerna otak. Yang sering liat Upin-Ipin akan paham. Atau yang biasa menggunakan bahasa Indonesia di percakapan sehari-hari. Berbeda dengan kami yang sama sekali tidak paham bahasa Khmer --dan Cham-. Benar-benar berbeda. Sehingga untuk komunikasi dengan warga sekitar hanya menggunakan isyarat: senyum. Nunjuk pakai jari. Atau isyarat menyamakan nominal uang dengan penjual jika beli kebutuhan di pasar.

Kedua, jauh dari KBRI, sehingga tidak banyak bolak-balik seperti kami. Yang harus 4x ke KBRI: kedatangan, Idul Adha, Agustusan, kepulangan.

Ketiga, jauh dari pusat Ibu Kota. Sehingga godaan untuk melancong besar. --saya tidak tahu: Kuching seperti apa. Apakah menggoda atau tidak.

Keempat, di Serawak tidak ada 'monumen' persahabatan Indonesia-Malaysia. Sedangkan kami dulu ada monumen. Yang monumen itu diurus. Karena hidup. Yakni "Sekolah Persahabatan Indonesia-Kamboja". 3 hari 2 malam awal kami di situ.

Gambarannya kami dulu begini:
29-30 Juli: Berangkat (24 jam mulai dari Adi Sucipto sampai ke tempat KKN)
31 Juli - 2 Agustus: Ke KBRI lanjut ke Sekolah Persahabatan
2 - 4 Agustus: KKN (Kembali ke tempat KKN dan pengenalan lingkungan)
5 - 10 Agustus: KKN (Ngajar di sekolahan dan kegiatan)
11 - 13 Agustus: Libur (Idul Adha dan sekolah)
14 - 16 Agustus: KKN (Lomba Agustusan dan kegiatan lain)
16 - 17 Agustus: KBRI (Perayaan 17 Agustusan di KBRI.--Kami menginap di Wisma KBRI)
18 - 20 Agustus: KKN (Kegiatan di asrama)
21 Agustus: Pamit KBRI dan eksplor Kamboja
22 Agustus: Pulang

Hitung saja. Yang saya sendiri merasakan: betapa kurangnya waktu kami untuk mengajar di sekolah. Tidak genap sepekan.
Sederhananya: dari 3 pekan KKN, hanya 2 pekan yang benar-benar fokus di tempat 'sebenarnya' KKN.

Sepertinya tulisan ini sudah mencapai 1000 kata. Maka untuk Luar Jawa dan yang belakangnya saya tulis di lembar yang lain. Demi keselamatan mata dan jempol Anda.

Jika teman-teman nanti lolos ke Serawak. Kemungkinan perjalanannya ada dua: Kuala Lumpur atau Pontianak. Lebih rincinya begini:
Yogyakarta (Adi Sucipto) ke Serawak (Kuching International Airport)
1.      Yogyakarta – Jakarta – Kuala Lumpur – Serawak (5 jam terbang di udara, 10-15 jam dengan transit.
2.      Yogyakarta – Jakarta – Pontianak – Serawak (3 jam 40 menit di atas awan, 14-an jam dengan transit)
(Jalur pertama lebih banyak)

KKN Luar Jawa dkk menyusul di mari

Upaya Penyelenggaraan Layanan Perpustakaan Islam di Madrasah Diniyah



 Oleh: Lutfi Rofiyatun (Ilmu Perpustakaan)


Pendahuluan

Perguruan tinggi atau dikenalnya Universitas memiliki kewajiban menjalankan  Tridharma  Perguruan  Tinggi  yang  termaktub  dalam  UU  No.  12
Tahun 2012 pasal 49 tentang Pendidikan Tinggi. Tridharma tersebut yaitu menyelenggarakapendidikan  dan  pengajaran, penelitian  dapengembangan, serta pengabdian masyarakat. Tujuan dari kewajiban tersebut tidak lain ialah menyiapkan anak didiknya menjadi generasi muda yang mampu membangun bangsa Indonesia ke arah yang lebih maju seperti yang di cita cita kan para pahlawan. Aspek dari tridharma tersebut saling berkaitan, di mana penyelenggaraan pendidika menjadi   beka mahasiswa   untuk   menciptaka da menambah wawasan ilmu pengetahuan melalui penelitian, kemudian wawasan tersebut diimplementasikan dalam lingkungan masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan bangsa melalui pengabdian masyarakat.

Salah satu bentuk pengabdian masyarakat dalam dunia perguruan tinggi ialah Program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Program tersebut menjadi mata kuliah wajib bagi seluruh mahasiswa sekaligus sebagai syarat kelulusan nanti. Pada Kuliah Kerja Nyata , mahasiswa dituntut untuk mengimplementasikan wawasan ilmu pengetahuan yang ia miliki agar peka terhadap kondisi lingkungan masyarakat sekaligus guna mengembangkan masyarakat di  mana ia diterjunkan dalam program KKN . Tujuannya ialah sebagai bekal mahasiswa agar ketika lulus nanti ia mampu menjadi bagian dari warga Negara yang ikut serta dalam mengembangkan masyarakat, sehingga Negara mampu bersaing dengan  Negara lain. Selama ini Negara berkembang, khususnya Indonesia belum mampu bersaing dengan Negara lain karena warga nya masih menjadi penikmat atau konsumer produk dari Negara lain. Seharusnya di era yang sudah semakin maju ini, warga Negara Indonesia sudah mampu menjadi produsen sehingga mampu mendongkrak perkembangan Negara.

Berdasar latar belakang tersebut, penulis berinisiatif ingin mengembangkan negara  berkembang  melalui  Program  Kuliah  Kerja  Nyata  Internasional  yaitKamboja melalui pendampingan sosial keagamaan madrasah diniyah. Kamboja merupakan salah satu anggota Asia bagian tenggara ,yang juga menjadi tetangga Indonesia. Sepatutnya sebagai warga Negara Indonesia yang baik, ikut membantu pemberdayaan Negara tetangga dalam upaya menjaga ketertiban dunia.


Pembahasan


Program Kuliah Kerja Nyata yang sering dilakukan ialah pemberdayaan masyarakat, yakni Pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk memberikan daya (empowerment) atau penguatan (strengthening) kepada masyarakat. Pemberdayaan masyarakat juga diartikan sebagai kemampuan individu yang bersenyawa dengan masyarakat dalam membangun keberdayaan masyarakat yang bersangkutan  sehingga  bertujuan  untuk  menemukan  alternatif-alternatif  baru dalam pembangunan masyarakat (Mardikanto, 2014). Terdapat kerangka dalam upaya pemberdayaan masyarakat (empowering) dapat dikaji dari tiga aspek, Pertama, Enabling yaitu menciptakan suasana yang memungkinkan potensi masyarakadapaberkembang.  Kedua,Empowering  yaitu  memperkuat  potensi yang   dimiliki   masyaraka melalui   langka –   langka nyata   menyangkut penyediaan berbagai input dan pembukaan dalam berbagai peluang yang akan membuat masyarakat semakin berdaya. Ketiga, Protecting yaitu melindungi dan membela kepentingan masyarakat lemah. Pendekatan pemberdayaan pada intinya memberikan tekanan pada otonom pengambilan keputusan dari kelompok masyarakat yang berlandaskan pada sumbernya pribadi,langsung,demokratis, dan pembelajaran sosial (Noor,2011).ketiga aspek pemberdayaan tersebut berlaku untuk semua bidang, baik sosial,agama,pendidikan,budaya dan bidang lainnya.

Kamboja  sendiri  termasuk  dalam  negara  miskin  di  dunia.  Meskipun fasilitas pendidikan gratis sudah banyak tersedia di Kamboja, tetapi untuk pendidikan agama Islam masyarakat muslim di sana harus kembali mengeluarkan dana dalam membangun infrastruktur serta memberikan insentif untuk pengajar. Hal tersebut merupakan hal yang cukup berat bagi masyarakat muslim Kambojkarena perlu mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk membangun fasilitas pendidikan agama yang layak.


Pembangunan  madrasah  diniyah  di  desa-desa  tentu  merupakan  solusi dalam mempermudah transfer ilmu agama. Hanya saja masih banyak desa yang membutuhkan bantuan dari negara lain untuk membangun madrasah di sana. Malaysia,  Brunei,  bahkan  Singapura  sering  kali  terdengar  dalam  membantu saudara  sesama  warga  ASEAN  dan  juga  sesama  muslim.  Padahal  Singapura bukan negara dengan mayoritas agama Islam. Sayangnya, Indonesia yang terkenal sebagai negara dengan populasi muslim terbanyak di dunia jarang terdengar membantu tetangganya di ASEAN (Selasar,2017). Dalam rangka membantu saudara-saudara kita di Kamboja menghidupkan sebuah madrasah diniyah di sana, saya sebagai peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Sunan Kalijaga berinisiatif untuk mengumpulkan kebaikan-kebaikan dari masyarakat Indonesia untuk membangun   sebuah   perpustakaan   disana.Kami   mengajak   siapa   pun   yang membaca ini agar dapat terkolaborasi dalam kebaikan, baik itu dengan menyebarkan tulisan ini maupun dengan berdonasi.


Perpustakaan hingga kini masih dianggap sebagau  gudang  yang hanya menyimpan buku saja tanpa ada kegiatan lain. Unsur penting dalam sebuah perpustakaan ialah pelayanan. Selain mengumpulkan dan menyediakan informasi, perpustakaan juga sebagai wadah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan melalui berbagai kegiatan. Madrasah diniyah juga memiliki kewajiban untuk membangun sebuah wahana belajar dan menambah wawasan pengetahuan sekaligus mengimplementasikan ketrampilan yang dimiliki oleh para siswanya. Kegiatan  yang akan  dibangun  dalam  perpustakaan madrasah  ialah  pendidikan pengguna atau user education, Makerspace corner atau ruang berkreasi,Sekolah Ketrampilan,Pojok Kitab dan Pojok Internet. Kegiatan tersebut berada di lingkungan madrasah sehingga akan mengikuti kaidah keislaman.

Pemberdayaan dengan pendampinga sosial keagamaan disini terlihat pada program perpustakaan yaitu hal utama ialah mengenalkan anak cara membaca al – qur’an dan mempelajari kitab, istilah dalam bahasa jawa ngaji. Selain itu juga mengajarkan praktek ibadah yang benar seperti sholat, wudhu, doa keseharian, dan latihan menjadi pendakwah. Kemudian pengajaran ilmu pengetahuan umum melalui koleksi perpustakaan yang akan disediakan. Koleksi ini nantinya akan meminta bantuan donasi dari para teman kuliah, Kampus UIN Sunan Kalijaga, masyarakat umum, donasi pribadi, dan juga meminta bantuan ke Kantor Kedutaan Besar Indonesia di Kamboja. Sasaran yang akan menjadi koleksi ialah ensiklopedi ilmu   pengetahuan   dan   Teknologi,koleksi   fiksi,   kamus   bahasa   asing,buku pedoman, buku aktivitas ketrampilan. Tidak ketinggalan ialah koleksi islami yaitu Juz amma, Qur’an, Kitab kitab agama islam, Buku kumpulan doa. Koleksi tersebut nantinya akan diolah secara sistematis melalui tahap seleksi buku, pengklasifikasian berdasarkan subjek,pembuatan katalog,dan pemberian label berwarna pada buku agar siswa mudah menemukan dan mengembalikan buku yang dicari dengan baik.


Program pelayanan lainnya ialah ruang berkreasi atau makerspace. Sesungguhnya  pelayanan  ini  tidak  harus  membutuhkan  ruang  secara  fisik. Program  ini  dapat  dilakukan  dimana saja bisa  diperpustakaasendiri,  di  luar ruangan outdoor. Dalam program ini, para siswa akan diberi kebebasan untuk membuat suatu produk sesuai dengan keahliannya, juga disediakan alat dan bahannya.kemudian siswa tersebut akan diberi apresiasi berupa hadiah atau penghargaan agar ia selalu termotivasi untuk berkarya,  Selain itu, juga diadakan kegiatan sekolah ketrampilan. Program ini memberikan pelatihan kepada siswa membuat suatu karya yang ia belum pernah sama sekali mencoba, sehingga nantinya diharapkan siswa dapat bertambah keahliannya selain keahlian murni yang ia miliki. Program ketrampilan ini akan berganti tema disetiap kegiatannya. Tujuannya agar siswa tidak merasa jenuh dengan program ini. ketrampilan yang akan diajarkan juga diusahakan tidak mengeluarkan biaya, karena melihat kondisi ekonomi  kamboja  yang  masih  rendah.  Dari  bahan  tanpa  nilai,  akan  menjadi
barang bernilai. Itulah prinsipnya. Seperti pembuatan keset dari kain perca, pembuatan robot atau wayang menggunakan kertas karton, pembuatan mobil dengan bahan kertas karton dan roda berasal dari karet sandal, dan ketrampilan lainnya.


Selanjutnya program yang tidak kalah penting ialah pelatihan bahasa asing dan pojok internet. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju, oleh karena itu, siswa wajib dibekali bahasa internasional khususnya bahasa asing dan arab.harapannya ialah siswa madrasah mampu bersaing dengan pesatnya perkembangan  zaman  ini,  sehinggiakan  mampu  mendongkrak  kemajuan Negara Kamboja sendiri. Selain itu pojok internet ini ialah besar harapan saya dapat  menyediakan  peralatan  internet  seperti  seperangkat  Personal  Computer (PC) dan jaringan internet.  Tujuannya ialah siswa tidak merasa asing dengan perkembangan teknologi sekaligus dapat mengikutinya, karena itu menyangkut dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang harus mereka ikuti. Program ini tentunya tidak mampu saya lakukan sendiri, tetapi juga membutuhkan bantuan berbagai pihak, masyarakat umum, pemerintah setempat, juga Duta Besar Indonesia di Kamboja. Meskipun nantinya program ini belum pasti terlaksana, setidaknya  tetap  dimasukkan  dalam  rencana  pemerintah  setempat  khususnya, karena para siswa madrasah ialah generasi penerus bangsa yang nantinya akan memajukan Negara menjadi Negara yang sejahtera,makmur dan mampu bersaing dengan Negara Lain.


      Kemudian selain pengajaran dan penyediaan , penulis berinisiatif mengadakan program User Education atau pendidikan pengguna. kegiatan ini penting dilakukan karena menyangkut keberhasilan para siswa dalam menelusuri informasi yang dibutuhkan melalui perpustakaan. nantinya , para siswa akan diajarkan mencari informasi dalam bentuk koleksi melalui kataloyang telah dibuat. Kemudian dari katalog tersebut akan ditemukan nomor subjek. Nomor tersebut akan digunakan untuk menelusuri, karena koleksi sudah tersusun berdasarkan urut nomor klasifikasi. Selain menelusuri, para siswa juga diajarkacara mengembalikan koleksi tersebut kedalam rak kembali. Pengajaran ini cukup mudah karena berpedoman pada label berwarna yang tertempel pada punggung buku. Warna masing masing buku berbeda, karena satu warna berlaku untuk satu  subjek.  Sehingga  nantinya  mudah  dalam  pengembalian  tanpa  merusak susunan  buku.  Intinya  ,  pendidikan  pengguna  ini  akan  menjadikan  siswa menelusuri informasi secara mandiri, tanpa harus memerlukan bantuan pustakawan atau pengelola perpustakaan. Pendidikan pengguna ini juga akan diajarkan kepada para pendidik madrasah dengan harapan mereka dapat menjadi pengelola perpustakaan yang baik untuk seterusnya. Sehingga, meskipun nantinya program Kuliah Kerja Nyata (KKN) berakhir, perpustakaan beserta program programnya akan tetap berjalan dikelola oleh staff madrasah.

Penutup

Program Pemberdayaan Masyarakat Sosial Keagamaan melalui pelayanan perpustakaan   ini ialah   upaya   penulis   mewujudkan   generasi   islami   yang cerdas, maju dan berakhlak. Perpustakaan bukan hanya sebagai gudang buku saja melainkan sebagai wahana informasi, pendidikan, penelitian, kebudayaan, kreasi dan rekreasi. Sehingga diselenggarakan pula pelayanan selain penyediaan buku, pelayanan yang menarik dan membekali ketrampilan para siswa. Mereka tidak hanya sekedar membaca buku saja, tetapi juga mempraktikkan langsung informasi yang mereka baca tersebut.