Rabu, 12 Februari 2020

MENGAPA KKN DI LUAR (NEGERI - JAWA)?


Siswa Sekolah Persahabatan Indonesia-Kamboja


Itu mungkin satu pertanyaan awal yang ada di benak teman-teman. --dengan pertanyaan turunan “apa enaknya”, “apa manfaatnya”, dan beragam apa lainnya.

“KKN di luar negeri itu jangan dilihat hanya sekadar keluar dari wilayah Indonesia. Lebih dari itu, kita akan mengenal dunia luas. Kita akan mengenal masyarakat global. Bahasanya, budayanya, dan semua yang ada, yang berbeda dengan Indonesia, kita bisa belajar darinya. Dan ingat, kita sekarang sudah menjadi bagian dari masyarakat global.”

Begitulah kira-kira motivasi dari yang DPL kami sepekan sebelum berangkat. Motivasi itu tidak keluar dengan sendirinya. Itu berawal dari cerita salah satu dari kami yang sedikit disindir oleh dosennya (ketika sowan), “Ngapain KKN jauh-jauh, kayak nggak ada yang dekat saja.”

Dan lagi, yang memberi motivasi itu bukan saja hanya sekadar DPL, melainkan alumnus McGill, Kanada. Teman-teman tentu paham sendiri maksud saya.

Memang benar, KKN di Luar Negeri tidak hanya sekadar keluar dari negeri. Pun demikian KKN di Luar Jawa, tidak hanya sekadar keluar dari pulau Jawa. --atau kalau mau lebih spesifik lagi, keluar dari wilayah Yogyakarta, Magelang, Klaten, Wonosobo. Karena memang cakupan KKN UIN Sunan Kalijaga ini hanya DIY dan Jateng --yang sekitarnya DIY.

Saya (juga Kami yang angkatan 2016) merasa beruntung, karena 2019 menjadi tahun pertama UIN menyelenggarakan KKN Internasional. Ditambah bonus 3 KKN Luar Jawa (Lampung, Kalimantan Selatan, dan Gorontalo). Ditambah lagi 2 pasukan mandiri: sekelompok 10 orang ke Lombok, sepasukan lagi ke Pulau Raas Madura (4 kelompok, 40 orang). Itu menjadi gebrakan yang luar biasa. Karena tahun sebelumnya hanya ada 1 kelompok KKN Luar Jawa, di Nusa Tenggara Timur.

Tahun ini, harusnya lebih beruntung lagi. Cakupan daerah yang dituju jauh lebih jauuuuuh. Yang paling jauh: Jayapura. Meskipun titelnya masih “Luar Jawa”.

Oke kita kembali, mengapa?
Tentu, manfaat utama yang akan teman-teman peroleh adalah pengalaman. Pengalaman yang bukan sekadar pengalaman. Teman-teman akan mendapatkan pengalaman khusus: keseruan yang terbayangkan pun tidak pernah. Kemungkinan besarnya begitu. Terutama bagi orang yang lahir, TK, sampai kuliahnya di Jawa. Atau orang luar Jawa non-Kalbar dan non-Papua yang baru merasakan hidup di Jawa Perkotaan (DIY). Atau juga orang Kalbar dan Papua yang belum merasakan ‘aroma pedesaan’ provinsinya.--Itu untuk KKN Luar Jawa.

Lalu bagaimana untuk KKN Luar Negeri?
Rasanya lembaran ini terlalu kecil untuk menggambarkan keseruan KKN kami dulu. Teman-teman bisa membacanya di blog ini, yang mayoritas bercerita tentang KKN di Kamboja.--yang baru sedikit cerita yang saya tulis--. Itu kalau mau. Jika berkenan.
Tapi intinya “Pengalaman”. Teman-teman masih ingat kan catatan kaki buku SIDU? “Experience is The Best Teacher”

Coming Soon
KKN: Luar Negeri, Luar Jawa, Tematik, atau Reguler?

(Ada beberapa artikel kami yang bisa teman-teman baca)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar