![]() |
| Setelah Bermain Gobak Sodor dan Senam |
BERDIRI sejak tahun 1995, Sekolah Persahabatan Indonesia – Kamboja kini mulai mendirikan bangunan baru. Sudah hampir setahun bangunan lama yang rapuh dirobohkan, diganti dengan bangunan semen dan besi. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan memperkuat semangat siswa dalam belajar.
⁂
Jarak yang jauh tak
menghalangi semangat Tim KKN UIN Sunan Kalijaga untuk menengok Sekolah
Persahabatan Indonesia – Kamboja pada Rabu, 31 Juli 2019 silam. Sekolah itu
berada di Trabaek Commune, Provinsi Prey Veng. Jaraknya 108 KM dari Ibukota
Phnom Penh. Tak kurang dari 3 jam waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke sana melalui
perjalanan darat. Dari kejauhan, terlihat gerbang bertuliskan “Cambodia
Indonesia Friendship School” lengkap dengan tulisan aksara Khmer. “Kita sudah
sampai”, Kata Roland, pengajar di Pusat Kebudayaan Indonesia (PUSBUDI) KBRI
Kamboja. Pria bernama lengkap Roland Uly Uju itu memang ditugaskan untuk
mendampingi Tim KKN selama di Prey Veng. Ia sudah khatam seluk beluk Sekolah
Persahabatan Indonesia – Kamboja ini.
Sekolahan itu
dikelilingi pagar setinggi 2 meter. Di balik pagar terdapat bangunan setengah
jadi yang kokoh berdiri. Terlihat para pekerja bangunan asyik berjibaku dengan
material semen dan pasirnya. Sesekali mereka berhenti untuk menghela nafas di
bawah pohon yang tidak terlalu rindang. Di halaman depan, sejauh mata
memandang, air terlihat menggenang. Mengisi kekosongan struktur tanah yang
tidak rata. “Hati-hati ya, becek, habis hujan sepertinya. Jangan sampai
kepleset” Tutur Roland.
Pria asli Jember, Jawa
Timur itu mengatakan kondisi seperti itu sudah lebih baik daripada beberapa
tahun yang lalu. Kondisi sekolah sebelum tahun 2017 sangat memprihatinkan.
Tembok bolong – bolong, rangka atap bangunan sudah lapuk, dan genteng yang
hilang dibawa angin. Maklum saja, minimnya bangunan dan pepohonan tinggi di
sekitar sekolah membuat angin bertiup begitu kencang. Bahkan hujan badai
menjadi hal yang biasa terjadi sehari-hari ketika musim penghujan datang.
Di Sekolah Persahabatan,
kini hanya terdapat 4 ruang yang bisa digunakan. tiga ruang untuk belajar
mengajar sekolah dasar, dan 1 lagi sebagai ruang guru. Sementara banyak ruang
kelas lagi yang masih setengah jadi.
“Sekolah ini didirikan pada 1995 atas bantuan
dari Indonesia. Saat itu pada pemerintahan Presiden Soeharto”, Ingat Eng Ban,
Kepala Sekolah SMP Persahabatan. Ia menambahkan, kegiatan belajar mengajar
dibagi ke dalam dua waktu, kelas pagi dan kelas sore. Kelas pagi masuk mulai
pukul 7 sampai 12. Sementara kelas sore dimulai dari pukul 12 sampai 4 sore.
Merajut Asa anak-anak Kamboja
Matahari Kamis pagi
menyingsing. Air tampak masih menggenang di banyak tempat, sisa dari hujan
badai tadi malam. Jam digital smartphone baru menunjukkan pukul 06.20. Tetapi
siswa-siswi SD sudah mulai berdatangan. Lengkap dengan pakaian putih-hitam khas
siswa tingkat dasar. Acap kali pandangan mata mereka tertuju ke arah Tim KKN.
“Mereka semangat sekali ya, padahal masuknya masih jam 7”, celetuk Rezaldy,
anggota Tim KKN.
Langkah kaki kecil
siswa-siswi SD tampak menyenangkan. Sesekali melompat ketika melewati genangan
air hujan. Meskipun hanya beralaskan sandal jepit. Bahkan beberapa tidak
memakai sandal. Tak mengurangi semangat mereka. Senyum ceria tetap terpancar
dari wajah-wajah mungil itu. “Mereka sudah terbiasa seperti ini. Mungkin karena
lingkungannya yang becek” Jelas Roland.
Pagi itu, Tim KKN
beranjak ke Pagoda di seberang jalan Sekolah Persahabatan. Tempat peribadatan
umat Budha itu sementara waktu dimultifungsikan sebagai tempat belajar
siswa-siswi SMP. Di gerbang masuk Pagoda ada 2 kolam berjajar. Keduanya
dipisahkan oleh jalan keluar-masuk selebar 5 meter. “Anak-anak biasanya mandi
rame-rame di sini. Seru sekali” terang Roland.
Terdapat 5 bangunan di
Pagoda ini. Terdiri dari 3 bangunan ibadah dan 2 rumah panggung kayu. Dari 5
bangunan, hanya 2 yang digunakan untuk kelas sementara. Tiga kelas berada di
Pagoda sebelah selatan. Dua kelas lainnya di sisi utara berupa rumah panggung
yang tak berdinding samping.
Roland lantas meminta
izin kepada guru untuk mengajar di kelas. Mengetahui Tim KKN masuk kelas, para
siswa duduk tenang bak patung Budha. “Di sini senang. Di sana senang. Di
mana-mana hatiku senang” ucap Luthfi mengeja lirik lagu yang ditulisnya di
papan, yang kemudian diikuti dengan terbata-bata oleh siswa. Lidah mereka tidak
bisa melafalkan lirik dengan fasih. Sesekali tawa kebingungan menghiasi wajah
beberapa siswa. Kesulitan demi kesulitan tersebut tak lantas membuat siswa
patah arang. Mereka tetap antusias mengikuti pembelajaran yang diberikan Tim KKN.
Sampai akhirnya para siswa Sekolah Persahabatan itu juga hafal hitungan satu
sampai sepuluh.
Matahari siang mulai
memanas. Tim KKN beranjak ke Sekolah Persahabatan. Berganti mengajar
siswa-siswi tingkat dasar. Selepas dzuhur, Tim KKN masuk ke ruang kelas SD.
“Saya tinggal ya. Silakan dihendel sendiri. Tadi saja bisa. Sekarang harus
lebih bisa” Ujar Roland.
“No. They can’t speak english, just little
(Tidak. Mereka tidak bisa berbicara dengan bahasa inggris, hanya
sedikit-sedikit)” jawab guru matematika ketika ditanyai Eri mengenai berbicara
dengan bahasa Inggris. Akhirnya guru matematika itu yang menerjemahkan dari
bahasa Inggris ke bahasa Khmer. Ia menjelaskan bahwa bahasa inggris yang
diajarkan masih sangat dasar. Terutama kosa kata yang sudah diketahui secara
umum. Itu-pun hanya beberapa anak yang bisa.
Bermodalkan pengalaman
di SMP sebelumnya, Tim KKN lebih rileks dalam menyampaikan materi. Seperti di
SMP, Tim KKN juga mengajarkan lagu dan hitungan dalam bahasa Indonesia.
Seringkali siswa berebut mengacungkan jari untuk unjuk gigi. Salah satunya
Musa, siswa berambut pirang itu dengan semangat membaca angka 1 sampai 10.
Meskipun gagal dalam mengucapkan huruf ‘J’ dalam angka 7. Mulutnya dengan keras
mengucapkan ‘tuyuh’, bukan ‘tujuh’ sebagaimana mestinya.
Di akhir kelas, Tim KKN
memberi apresiasi dan kenang-kenangan. Tak kurang 30 gantungan kunci dan stiker
dibagikan kepada para siswa SD Sekolah Persahabatan.
“Sekolah ini mengajarkan
kepada kita betapa kekurangan tidak menjadi alasan untuk putus semangat dalam
mencari ilmu.” ucap Dliya’ul Haq, memungkasi kegiatan di Kamis sore itu.
Baca juga: Tentang Indonesia di Negara Tetangga

Bagussssss
BalasHapus