Senin, 21 Oktober 2019

HARI PERTAMA DI PREY VENG

Para Bos SedangTidur (Perjalanan Berangkat)


Rabu, 31 Juli 2019

108 KM. Jarak yang harus kami tempuh. Dari titik start Masjid Serkal, masjid terbesar di Phnom Penh, juga Kamboja. Jarak itu terbilang jauh. Dibanding jarak sekolah persahabatan ke negara tetangga, Vietnam. Hanya 52,7 KM jauhnya dari Lò Gò-Xa Mát National Park. Taman nasional terbesar di Vietnam bagian timur.

Jam 4 sore kami tiba. Setelah menempuh waktu 3 jam mengendarai Van. Kendaraan yang kami sewa dari Phnom Penh. Biaya sewanya cukup murah. Bisa juga dibilang mahal. Hanya 80 dolar AS. Atau setara 1 juta 133 ribu rupiah. Dolar memang jadi mata uang alternatif favorit. Di samping mata uang asli, Riel.

Waktu di Kamboja sama dengan Indonesia, GMT +7. Tetapi waktu sholat, berbeda sedikit. Sedikit lebih dulu Indonesia. Saat itu kami melaksanakan sholat ‘ashar, seharusnya. Tetapi kami tunda. Menunggu kepala sekolah datang. Selain belum ada tempat menaruh barang-barang. Juga waktu maghrib masih lama. 18.20 WK (Waktu Kamboja), atau berbeda 30 menit dari Indonesia.
 

Tempat Tidur, SIAP!

Penampakan Hotel Kami Tidur
Sekitar jam 5, tempat ‘tidur’ sudah siap. Tempat tidurnya di ruang kelas. Bukan ruang kelas jadi. Tapi baru 60% jadi. Ruang itu ukurannya sekitar 8 x 5 m. Tak berpintu. Tak ada tutup jendela. Berlantai krakal. Tetapi sudah bergenteng dan bertembok.

Tikar kami gelar di lantai. Juga jaring-jaring ‘bayi’. Sengaja dipasang karena banyak nyamuk. Laki-laki tidur di pojok utara-timur. Sementara jaring-jaring diisi kaum ibu. Di pojok seberangnya. Di bagian barat kelas, dijadikan dapur. Di sebelah selatan bercokol sumber hidup. LISTRIK!
Kira-kira begitu tempat tidur kami. Paling tidak selama 3 hari 2 malam.

Masak-Masak


Layaknya orang kemah. Kami juga butuh masak. Biar tetap hidup. Setelah maghrib, kami masak. Masak beras di magic com-nya sekolahan. Berasnya dari Indonesia. Langsung kami impor sendiri.
Kami juga masak ayam. Ayamnya warga. Saya yang menyembelihnya. Di timur kamar mandi. Dibantu Mas Bangkit. Karena warga tidak mau menyembelihnya. Karena mereka orang Hindu.
Setelah disembelih, lalu dipotong-potong. Setelah dicabuti bulunya. Tetapi saya tidak ikut. Cuman teman-teman saya dan pak guru. Saya sibuk menghadap laptop. Bukan mengerjakan apa-apa. Sekadar pencitraan saja.

Ternyata potongannya terlalu besar. Kurang kecil. “Kok besar-besar?”, kata mereka. Dengan bahasa Khmer, tentunya. Hanya Pak Roland yang paham. Kami? Ngah-Ngoh
Memang. Orang Kamboja beda dengan Indonesia. Di sana daging selalu dipotong kecil-kecil. Paha ayam misalnya. Dipotong jadi 3 bagian. Beda dengan orang Indonesia. Yang di makan utuh.
Sebelum masakan matang, saya diajak warga. Membeli kecap di toko. Dibonceng. Karena di sana lajur kanan. Bukan kiri sebagaimana Indonesia. 

Kami naik motor '75-nya Indonesia. Udud udud udud... cukup syahdu. Ditambah jalanan yang gelap gulita. Maklum. Listrik baru masuk daerah Prey Veng. Jadi hanya rumah yang ada lampunya. Itu-pun tidak terang. Jangan dibandingkan dengan Phnom Penh. Apalagi Jakarta! Mungkin karena listrik mahal. Atau belum terbiasa dengan terang. Bisa jadi. 

Letak tokonya tidak jauh dari sekolah. Kira-kira 200 meter. Atau mungkin 300 meter. Yang jelas saya nggak ngukur. Di sepanjang jalan saya tolah-toleh. Mencari ‘toko’ yang dimaksud. Juga untuk mencari ‘kegiatan’. Karena mau ngobrol, juga tidak paham bahasa. 

Tiba-tiba motor berhenti di depan rumah. Tak berbentuk toko layaknya di Indonesia. Jangankan berlampu terang, buka saja tidak. Warga itu langsung masuk ke rumah. Tanpa permisi, apalagi "Assalamu'alaikum". Langsung mengambil kecap dan bumbu-bumbu. Lalu memasukkan uang ke kotakan berbentuk bulat (kencleng). "Sepertinya memang begini Adatnya", gumamku. Ternyata gumamanku salah. Yang benar, toko itu ya rumahnya. Atau di dalam rumahnya ada toko. Atau sembari buka rumah, dia juga buka toko. Ah Mbuhlah. 

Kami kembali ke sekolahan. Dengan memegang botol kecap dan bumbu. Juga uang berapa puluh Riel titipan bendahara, Wenny. Uang itu tidak terpakai. Karena rupanya sudah di bayar Pak Roland. Alhamdulillah. Pengeluaran berkurang. Eee dasar cah pelit!

Kami lanjutkan masak. Bukan anak KKN. Melainkan Pak guru SD. Karena setelah tragedi paha dipotong jadi 3, semua dihendel warga. Kami hanya menonton. Mungkin pak guru pikir kami tidak bisa masak. Atau mungkin juga kasihan. Kasihan ke muka lapar kami.


Madang-madang
Akhirnya ayam matang. Lalu kami makan. Hanya anak KKN. Sementara warga tidak mau makan. Meskipun kami “Monggo... Monggo”-kan . Tetap saja tidak mau. Katanya sudah makan. Ternyata adat sana mirip di Jawa. 

"Orang sini makannya teratur. Jadi setelah 'maghrib' langsung makan", kata Pak Roland.
Bener juga. Mereka bukan mahasiswa. Yang suka telat makan.
"Kalau ada tamu, biasanya disuruh duluan makannya. Sedangkan yang punya rumah, belakangan", Lanjut Pak Roland.
Jawa Banget! 

Nyanyian 'Cucakrowo' 

A Ra Piye? Lha Piye. Arapiyaa
Syahdu betul malam itu. Makan lauk ayam. Ditemani suara kodok kelaparan. Juga pak guru, warga, dan pak polisi yang nembang di luar. Pak guru memegang Tro Khmer. Biolanya orang Kamboja. Unik. Modal 1 benang saja. Suaranya bagus banget. Lihat saja di yutup kami. 

Sementara gendang ditabuh pak polisi. Bentuknya mirip gedombak-nya Kep. Riau. Suaranya bagus. Meskipun tabuhannya terkesan ngawur. Maklum. Saya anak banjari. Jadi pernah megang dumbuk.
Sementara yang lainnya menyanyi.    
"Arapiya ya.. Arapiya ya..
Arapiya Arapiya Arapiyaaa"
Begitu liriknya. Satu dari banyak lagu yang dimainkan. Nama lagunya Arapiya. Lagu andalan orang Kamboja. Nadanya mirip 'cucakrowo'. Lagu Indonesia yang sudah melegenda. Mirip banget. Kalau tidak percaya, dengarkan saja. Liat di Yutup kami!

"Dulu pas ada (orang Indonesia) yang ke sini. Lalu mendengar lagu Arapiya. Katanya, "Kayak nggak asing lagi sama lagu ini".", Kata Pak Roland. 

Nggak Suka Manis


Kami buatkan teh anget untuk warga. Bukan kami. Maksud saya Eri dan Luthfi. Dibuatnya teh manis anget. Supaya tidak nganggur. Juga karena diminta Pak Roland membuatkan.
Tiba-tiba Pak Roland bertanya, "Oo tadi tehnya manis ya?"
"Iya pak kenapa?", Jawab Eri.
"Oh ya lupa ya nggak saya bilangin. Orang sini nggak suka manis. Yaudah nggak papa", Pak Roland menimpali.
Kami hanya nyengir. Semprul sekali kami. 

Di situ kami juga bercengkerama. Beberapa warga merokok. Maka tampillah Ahlut Thoriqoh Al-Uduudiyah, Bangkit. Dia menawarkan rokoknya. Asli Indonesia. Tetapi hanya 1-2 yang mau. Katanya, tidak terbiasa ngrokok. Ternyata selain listrik, rokok juga baru masuk.

Rapat Sebelum Tidur


Malam mulai larut. Guru dan warga sudah pamit. Sementara polisi masih berjaga di pos ronda. Di saat itu kami rapat. Membahas ‘mau ngapain’ besok pagi. Rencana awal kami buka lagi. Senam, ngajar bahasa Indonesia, sosialisasi kebersihan. Program yang sangat bagus. Tapi bahasa jadi kendala. Kami tahu dari awal tidak bisa bahasa. Tapi tetap diprogramkan. Nggak tahu tapi dilakoni. Kan lucu. Kalau tidak mau disebut gila. 

“Sudah pokoknya buat mereka senang saja”, Ucap Pak Roland.
“Ajari nyanyi di sini senang di sana senang. Pasti mereka nanti pas pulang naik sepeda nyanyiin itu”, Lanjut Pria Jangkung itu.
Itu membuat kami tenang. Hiburan di tengah kekhawatiran. Khawatir kehabisan bensin. Mogok di tengah jalan. “MATILAH KAMI!”
“Kondisional besok saja. Semangat ya. Kalian bisa kok”, Lanjutnya bak Ippho Santoso.

Akhirnya kami tidur. Saya di pojok-an timur utara. Cari aman. Selain biar anget.
Dliyaul Haq barat saya. Bangkit baratnya lagi.
Reza selatan saya.
Pak Roland jaga pintu. Tidur paling barat. Paling dekat pintu.
TIDUR!!!!!!!!!!

(Selanjutnya. Hari kedua. Cerita akan diawali Badai malam hari. Lalu anjing masuk kelas. Sampai Sandalnya Pak Roland dicuri Anjing. So.. Nantikan! Arkoun)

4 komentar:

  1. Mantap mas Iwan.. terus menulis terus menginspirasi....

    BalasHapus
  2. Kesel moco blog wan panjang eram ceritanya🙈 mending gawe vlog cb Semangat"🤗

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Diblog-in ndikek. Vlog e menyusul. Ben ora lali ceritané 😁... Saya nulis juga sekalian latihan. Latihan Style-nya Pak Dahlan

      Hapus