![]() |
| Para Bos SedangTidur (Perjalanan Berangkat) |
Rabu, 31 Juli 2019
108 KM. Jarak yang harus kami
tempuh. Dari titik start Masjid Serkal, masjid terbesar di Phnom Penh, juga
Kamboja. Jarak itu terbilang jauh. Dibanding jarak sekolah persahabatan ke
negara tetangga, Vietnam. Hanya 52,7 KM jauhnya dari Lò Gò-Xa Mát National
Park. Taman nasional terbesar di Vietnam bagian timur.
Jam 4 sore kami tiba. Setelah
menempuh waktu 3 jam mengendarai Van. Kendaraan yang kami sewa dari Phnom Penh.
Biaya sewanya cukup murah. Bisa juga dibilang mahal. Hanya 80 dolar AS. Atau
setara 1 juta 133 ribu rupiah. Dolar memang jadi mata uang alternatif favorit.
Di samping mata uang asli, Riel.
Waktu di Kamboja sama dengan
Indonesia, GMT +7. Tetapi waktu sholat, berbeda sedikit. Sedikit lebih dulu
Indonesia. Saat itu kami melaksanakan sholat ‘ashar, seharusnya. Tetapi kami
tunda. Menunggu kepala sekolah datang. Selain belum ada tempat menaruh
barang-barang. Juga waktu maghrib masih lama. 18.20 WK (Waktu Kamboja), atau
berbeda 30 menit dari Indonesia.
Tempat Tidur, SIAP!
Sekitar jam 5, tempat ‘tidur’ sudah
siap. Tempat tidurnya di ruang kelas. Bukan ruang kelas jadi. Tapi baru 60%
jadi. Ruang itu ukurannya sekitar 8 x 5 m. Tak
berpintu. Tak ada tutup jendela. Berlantai krakal.
Tetapi sudah bergenteng dan bertembok.
Tikar kami gelar di lantai. Juga
jaring-jaring ‘bayi’. Sengaja dipasang karena banyak nyamuk. Laki-laki tidur di
pojok utara-timur. Sementara jaring-jaring diisi kaum ibu. Di pojok
seberangnya. Di bagian barat kelas, dijadikan dapur. Di sebelah selatan
bercokol sumber hidup. LISTRIK!
Kira-kira begitu tempat tidur kami.
Paling tidak selama 3 hari 2 malam.
Masak-Masak
Layaknya orang kemah. Kami juga
butuh masak. Biar tetap hidup. Setelah maghrib, kami masak. Masak beras di
magic com-nya sekolahan. Berasnya dari Indonesia. Langsung kami impor sendiri.
Kami juga masak ayam. Ayamnya warga.
Saya yang menyembelihnya. Di timur kamar mandi. Dibantu Mas Bangkit. Karena
warga tidak mau menyembelihnya. Karena mereka orang Hindu.
Setelah disembelih, lalu
dipotong-potong. Setelah dicabuti bulunya. Tetapi saya tidak ikut. Cuman teman-teman
saya dan pak guru. Saya sibuk menghadap laptop. Bukan mengerjakan apa-apa.
Sekadar pencitraan saja.
Ternyata potongannya terlalu besar.
Kurang kecil. “Kok besar-besar?”, kata mereka. Dengan bahasa Khmer, tentunya. Hanya
Pak Roland yang paham. Kami? Ngah-Ngoh
Memang. Orang Kamboja beda dengan
Indonesia. Di sana daging selalu dipotong kecil-kecil. Paha ayam misalnya.
Dipotong jadi 3 bagian. Beda dengan orang Indonesia. Yang di makan utuh.
Sebelum masakan matang, saya diajak
warga. Membeli kecap di toko. Dibonceng. Karena di sana lajur kanan. Bukan kiri
sebagaimana Indonesia.
Kami
naik motor '75-nya Indonesia. Udud udud
udud... cukup syahdu. Ditambah jalanan yang gelap gulita. Maklum. Listrik
baru masuk daerah Prey Veng. Jadi hanya rumah yang ada lampunya. Itu-pun tidak
terang. Jangan dibandingkan dengan Phnom Penh. Apalagi Jakarta! Mungkin karena
listrik mahal. Atau belum terbiasa dengan terang. Bisa jadi.
Letak
tokonya tidak jauh dari sekolah. Kira-kira 200 meter. Atau mungkin 300 meter.
Yang jelas saya nggak ngukur. Di sepanjang jalan saya tolah-toleh. Mencari
‘toko’ yang dimaksud. Juga untuk mencari ‘kegiatan’. Karena mau ngobrol, juga
tidak paham bahasa.
Tiba-tiba
motor berhenti di depan rumah. Tak berbentuk toko layaknya di Indonesia.
Jangankan berlampu terang, buka saja tidak. Warga itu langsung masuk ke rumah.
Tanpa permisi, apalagi "Assalamu'alaikum". Langsung mengambil kecap
dan bumbu-bumbu. Lalu memasukkan uang ke kotakan berbentuk bulat (kencleng).
"Sepertinya memang begini Adatnya", gumamku. Ternyata gumamanku
salah. Yang benar, toko itu ya rumahnya. Atau di dalam rumahnya ada toko. Atau
sembari buka rumah, dia juga buka toko. Ah Mbuhlah.
Kami
kembali ke sekolahan. Dengan memegang botol kecap dan bumbu. Juga uang berapa
puluh Riel titipan bendahara, Wenny. Uang itu tidak terpakai. Karena rupanya
sudah di bayar Pak Roland. Alhamdulillah. Pengeluaran berkurang. Eee dasar cah
pelit!
Kami lanjutkan masak. Bukan anak
KKN. Melainkan Pak guru SD. Karena setelah tragedi paha dipotong jadi 3, semua
dihendel warga. Kami hanya menonton. Mungkin pak guru pikir kami tidak bisa
masak. Atau mungkin juga kasihan. Kasihan ke muka lapar kami.
| Madang-madang |
Akhirnya
ayam matang. Lalu kami makan. Hanya anak KKN. Sementara warga tidak mau makan.
Meskipun kami “Monggo... Monggo”-kan .
Tetap saja tidak mau. Katanya sudah makan. Ternyata adat sana mirip di Jawa.
"Kalau
ada tamu, biasanya disuruh duluan makannya. Sedangkan yang punya rumah,
belakangan", Lanjut Pak Roland.
Nyanyian 'Cucakrowo'
| A Ra Piye? Lha Piye. Arapiyaa |
Syahdu
betul malam itu. Makan lauk ayam. Ditemani suara kodok kelaparan. Juga pak
guru, warga, dan pak polisi yang nembang di luar. Pak guru memegang Tro Khmer.
Biolanya orang Kamboja. Unik. Modal 1 benang saja. Suaranya bagus banget. Lihat
saja di yutup kami.
Sementara gendang ditabuh pak
polisi. Bentuknya mirip gedombak-nya Kep. Riau. Suaranya bagus. Meskipun
tabuhannya terkesan ngawur. Maklum. Saya anak banjari. Jadi pernah megang dumbuk.
Sementara yang lainnya menyanyi.
Begitu
liriknya. Satu dari banyak lagu yang dimainkan. Nama lagunya Arapiya. Lagu
andalan orang Kamboja. Nadanya mirip 'cucakrowo'. Lagu Indonesia yang sudah
melegenda. Mirip banget. Kalau tidak percaya, dengarkan saja. Liat di Yutup
kami!
"Dulu
pas ada (orang Indonesia) yang ke sini. Lalu mendengar lagu Arapiya. Katanya,
"Kayak nggak asing lagi sama lagu ini".", Kata Pak Roland.
Nggak Suka Manis
Kami
buatkan teh anget untuk warga. Bukan kami. Maksud saya Eri dan Luthfi.
Dibuatnya teh manis anget. Supaya tidak nganggur. Juga karena diminta Pak
Roland membuatkan.
"Oh
ya lupa ya nggak saya bilangin. Orang sini nggak suka manis. Yaudah nggak
papa", Pak Roland menimpali.
Di situ kami juga bercengkerama.
Beberapa warga merokok. Maka tampillah Ahlut
Thoriqoh Al-Uduudiyah, Bangkit. Dia menawarkan rokoknya. Asli Indonesia.
Tetapi hanya 1-2 yang mau. Katanya, tidak terbiasa ngrokok. Ternyata selain
listrik, rokok juga baru masuk.
Rapat Sebelum Tidur
Malam mulai larut. Guru dan warga
sudah pamit. Sementara polisi masih berjaga di pos ronda. Di saat itu kami
rapat. Membahas ‘mau ngapain’ besok
pagi. Rencana awal kami buka lagi. Senam, ngajar bahasa Indonesia, sosialisasi
kebersihan. Program yang sangat bagus. Tapi bahasa jadi kendala. Kami tahu dari
awal tidak bisa bahasa. Tapi tetap diprogramkan. Nggak tahu tapi dilakoni. Kan lucu. Kalau tidak mau disebut gila.
“Sudah pokoknya buat mereka senang
saja”, Ucap Pak Roland.
“Ajari nyanyi di sini senang di sana senang. Pasti mereka nanti pas pulang naik
sepeda nyanyiin itu”, Lanjut Pria Jangkung itu.
Itu membuat kami tenang. Hiburan di
tengah kekhawatiran. Khawatir kehabisan bensin. Mogok di tengah jalan. “MATILAH
KAMI!”
“Kondisional besok saja. Semangat
ya. Kalian bisa kok”, Lanjutnya bak Ippho Santoso.
Akhirnya kami tidur. Saya di
pojok-an timur utara. Cari aman. Selain biar anget.
Dliyaul Haq barat saya. Bangkit baratnya
lagi.
Reza selatan saya.
Pak Roland jaga pintu. Tidur paling
barat. Paling dekat pintu.
TIDUR!!!!!!!!!!
(Selanjutnya. Hari kedua. Cerita akan
diawali Badai malam hari. Lalu anjing masuk kelas. Sampai Sandalnya Pak Roland
dicuri Anjing. So.. Nantikan! Arkoun)


Mantap mas Iwan.. terus menulis terus menginspirasi....
BalasHapusAsyiaaapppp Mas Did
HapusKesel moco blog wan panjang eram ceritanya🙈 mending gawe vlog cb Semangat"🤗
BalasHapusHahaha. Diblog-in ndikek. Vlog e menyusul. Ben ora lali ceritané 😁... Saya nulis juga sekalian latihan. Latihan Style-nya Pak Dahlan
Hapus